Skip to main content

Serpihan Cerita Diantara Debu Proyek


hari itu entah kenapa saya melangkah ke proyek dengan perasaan melankolis yang super sensitif untuk ngecek cor - coran plat dan melihat persiapan pembesian untuk kolom di lantai 2.


tidak seperti biasa, pak tukang yang biasanya berjumlah tiga puluhan orang menyusut menjadi kurang dari sepuluh orang, ketika saya tanya kepada pak Dul, sang kepala tukang beliau menjawab "ke kampung mbak, kecapekan. kan habis nerima bayaran"

bisa anda bayangkan berapa bobot dari besi tersebut 
saya terdiam, mereka berhak untuk pulang (meskipun pada akhirnya membuat time schedule jadi molor) mereka punya anak yang tidak boleh putus pendidikannya, mereka punya istri yang harus dicukupi nafkah lahir bathin nya, mereka bertanggung jawab untuk dapur yang terus mengepul dan kebutuhan sandang yang menuntut untuk bersikap konsumtif.
mbak mbak proyeknya a.k.a saya lagi ngecek persiapan pemasangan besi kolom
mereka adalah ayah ayah yang tanpa sadar mengingatkan saya pada ayah saya, yang selalu saya panggil dengan sebutan "abah". kebanyakan anak perempuan justru lebih dekat dengan ibu, berbeda dengan saya yang justru lebih dekat dengan abah. bagi saya abah adalah idola dan umi (ibu saya) adalah pendamping sekaligus pembimbing. iya, saya memiliki kedekatan dengan abah lebih daripada kebanyakan teman teman perempuan saya.
dengan jalan ini mereka menjemput rezeki yang halal
abah saya adalah seorang insyur sipil yang dua puluh tahun lebih duluan dari saya terjun dalam rimba konstruksi ini. bukan, bukan masalah profesi yang saya persoalkan. tapi cara semua ayah dalam aplikasinya menjemput rezeki halal demi kesejahteraan hidup keluarganya yang menjadi sorotan saya.

mbak mbak proyek a.k.a saya yang dijuluki pak tukang sebagai "srikandi proyek" 
sebagai seorang anak, saya juga pernah ngambek pada abah saya untuk hal hal yang begitu childish, saya juga pernah tidak serius dalam menjalani pendidikan saya dengan alasan jenuh pada guru yang memiliki kesulitan dalam menyampaikan materi (cara mengajarnya tidak enak) padahal itu adalah pelajaran sulit. saya pernah membolos sekolah dengan alasan males sekolah atau terlambat bangun, saya pernah mencontek ketika ujian dengan alasan benci dengan salah satu pelajaran tapi bersikap pengecut karena takut mendapat nilai jelek, dan banyak sekali kenakalan kenakalan yang pernah saya lakukan sebelum akhirnya saya bergabung dengan rimba konstruksi. bergabung di jalan dimana ayah saya menjemput rezeki demi lancarnya pendidikan dan hidup saya.


sebagai seorang anak, terlebih anak yang mengetahui persis besarnya pengorbanan seorang ayah untuk keluarganya, saya cuma bisa bilang.....

sampaikan ungkapan betapa sayangnya kamu pada ayahmu atas pengorbanan beliau selama ini, selagi beliau masih hidup dan kamu masih bisa melihat senyumnya.....

ucapkan sesimple saya bilang : "abah, kakak sayang abah" 

kalian memang lebih mudah menyampaikan perasaan kepada ibu karena pribadi ibu yang cenderung lebih "hangat". tapi percayalah, ucapan sesederhana "aku sayang ayah" begitu berarti bagi ayah kalian.



Surabaya, 13 Juni 2014



Rifa Akhsan


Comments

Post a Comment

pembaca yang baik, terima kasih telah berkunjung ke sini. silahkan meninggalkan kritik, saran, pesan, kesan, dan apresiasi untuk saya menulis lebih baik lagi. terima kasih pula untuk tidak nge-Spam di Blog Saya :)



Popular posts from this blog

Mitos Mitos Tentang Teknik Sipil

salah satu mahasiswa teknik sipil yang lagi praktikum ukur tanah kembali lagi tentang teknik sipil, terima kasih kepada sumber lalu lintas yang menerangkan bahwa semakin banyak yang kepo tentang teknik sipil. juga kepo tentang saya :D tapi ada hal yang membuat saya tergerak untuk menulis tulisan ini, karena mayoritas kata kunci yang dimasukkan tentang teknik sipil adalah tentang mitos mitos teknik sipil yang masih belum ada yang mengulasnya. okeh, dibawah ini adalah mitos terumum di dunia teknik sipil.

Rasanya Kuliah di Teknik Sipil Itu..

Rasanya Kuliah di Teknik Sipil itu.. FUN :) yah berkuliah di jurusan yang menangani realisasi dari perencanaan pembangunan. simple nya jurusan yang menghitung kemungkinan bisa tidaknya sebuah rencana bangunan dibangun, atau lebih gampangnya lagi adalah jurusan tukang. adalah jurusan yang 90% peminatnya adalah cowok. dan saya adalah bagian dari jurusan ini. kalian bisa bayangkan, kelas saya. kelas H teknik sipil berjumlah 45 mahasiswa dengan komposisi mahasiswa cowok 43 orang dan mahasiswa cewek 3 orang (termasuk saya). kalau kelas kita dicampur, maksimal cewek dalam satu kelas adalah 9 orang. itu sudah paling banyak. keadaan seperti itu, setiap hari senin-jum'at.  di awal awal masa perkuliahan membuat saya berpikir kayaknya-saya-salah-jurusan-deh. bagi seorang mahasiswa yang selama SMP dan SMA selalu berada di ruang kelas yang satu kelas cewek semua, hal ini sangat baru bagi saya. tapi ini harus saya jalani. dari segi materi, di teknik sipil kamu tidak akan pernah b...

Rasanya Jadi Anak Kembar itu...

Rifa-Rusma Dek Fuad-Rusma-Rifa Rusma-Mom-Rifa Rifa-Rusma Rifa-Dad-Rusma Rifa-Rusma-Mom Menjadi anak kembar identik adalah takdir yang harus saya jalani, bahkan sebelum saya melihat dunia. ya, saya bersama dengan Rusma Fatimah Ma'rifah Akhsan mulai dari berbagi rahim  sampai sekarang.