Skip to main content

Reason Why You Should in Love with Badminton



sumber gambar : republika

okeh, jadi karena saya gabut mau ngapain. stress ngerjain laporan sementara puasa saya pecah karena udzur.

jadi mari kita bahas hal hal yang ringan ringan aja.

yuk mari.

saya dari dulu emang suka nonton Badminton, tapi baru bener bener suka banget sebulanan ini kali ya. mulai dari gelaran thomas uber, Indonesia Open, dan lanjut ke Australia Open.

thanks God for channel sport dan kecepatan internet super banter yang memungkinkan streaming tanpa buffering.

awalnya mulai dari pengen liat sesuatu yang lebih bermanfaat dibandingkan gimmick demi durasi acara dan rating televisi, atau twitwar akibat sok tau yang overlapping saya mulai suka streaming event badminton.

lama lama saya jadi suka sama mereka (para Atlet) atas performa mereka di lapangan, tentang tetap tenang dan fokus di bawah tekanan, tentang cara mereka pantang menyerah mengejar bola meskipun poin sudah tertinggal jauh, tentang mereka yang menghargai lawan (mereka sukses juga karena lawan), tentang persahabatan sehat antar atlet, bagaimana menjaga pergaulan agar tetap fokus pada tujuan besar, dan tentang nasionalisme yang merasuk dalam asa, jiwa, dan raga mereka.

jangan minta saya nyanyi lagu Indonesia raya deh, bisa merinding sebadan badan -- Jonatan Christie

mengikuti keseharian para Atlet seperti Greysia Polii, Jonatan Christie, Ihsan Maulana Mustofa, Nitya Maheswari melalui sosial media mereka mengajarkan saya banyak hal. bahwa kita bisa berbuat untuk Indonesia yang lebih baik dibandingkan berceloteh dan berdebat di media sosial, kita bisa memberi dukungan doa dan semangat kepada mereka, kita bisa belajar tentang arti disiplin, sabar, berpikir positif, happy, tidak takut, kerja keras, sungguh - sungguh, dan upaya serius meraih mimpi. tidak lupa tentang rendah hati dan bersahaja serta pentingnya memelihara harapan dan berdoa dalam segala kondisi.

tanpa raket saya bukan apa apa, dan saya bukan siapa siapa -- Ihsan Maulana Mustofa

banyak sekali gelaran yang saya saksikan dimana pemain muda Indonesia mampu mengalahkan pemain Badminton papan atas dunia, untuk seorang yang suntuk pada banyaknya target. saya sadar bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.

generasi muda pebulutangkis profesional Indonesia, yang bahkan sudah memiliki penghasilan di umur 17-18 tahun (dimana mereka memenangkan turnamen) menyadarkan saya bahwa menikmati masa muda tidak melulu dengan berfoya foya, berorganisasi kampus yang isinya hanyalah pepesan kosong cari panggung, atau berprestasi melalui IPK menjulang, atau santai santai ala ala mumpung masih muda.

atlet juga manusia, mereka juga bisa jenuh, mereka juga suka jalan jalan ke mall, mereka juga suka bersosial media, mereka juga suka kulineran, tapi mereka tidak lupa tentang usaha keras demi tujuan besar : lagu Indonesia Raya dinyanyikan di kancah elit olimpiade karena gelar juara yang mereka raih.

jadi saya sekarang lagi seneng senengnya lihat periscope/snapchat/twitter/instagram jojo (jonathan christie) ican (ihsan maulana mustofa), dan oppa Lee Young Dae ketimbang menyaksikan perdebatan tak sudah sudah yang melebar kemana mana padahal juga tidak jelas apa manfaatnya.

kata pelatih kami, kalau kamu memang ambil medalinya, kalau kamu kalah, ambil pengalamannya. juara adalah tentang mereka yang mentalnya kuat, mental kuat berasal dari pikiran dan hati. sombong dan bangga hanya akan melemahkan mental. kompetisi sejatinya tentang pertarungan mental, siapa yang mentalnya lebih kuat dan siap, maka dialah yang menang.

Jonatan Christie dan Ihsan Maulana sangat mungkin akan menjadi idola baru generasi muda Indonesia, dimana mereka menjadi contoh nyata tentang arti sesungguhnya kerja keras, fokus, dan sungguh sungguh. dibandingkan para artis seni peran umur tanggung yang hanya bisa memberi contoh tutorial pacaran dan berganti pasangan.

semangat generasi muda Badminton Indonesia, karena kalian kami percaya bahwa 2-3 tahun kedepan Indonesia akan menjadi dominator Badminton yang ditakuti dunia.

dan semoga oppa Lee Young Dae nggak cepat cepat pensiun, oh kalau pensiun saran saya jadi aktor action film cem Ji Chang Wook gitu lho.




Surabaya, 13 Juni 2016



Rifa Akhsan, yang baru aja di accept request IG nya sama oppa Lee Young Dae  

Comments

Popular posts from this blog

Mitos Mitos Tentang Teknik Sipil

salah satu mahasiswa teknik sipil yang lagi praktikum ukur tanah kembali lagi tentang teknik sipil, terima kasih kepada sumber lalu lintas yang menerangkan bahwa semakin banyak yang kepo tentang teknik sipil. juga kepo tentang saya :D tapi ada hal yang membuat saya tergerak untuk menulis tulisan ini, karena mayoritas kata kunci yang dimasukkan tentang teknik sipil adalah tentang mitos mitos teknik sipil yang masih belum ada yang mengulasnya. okeh, dibawah ini adalah mitos terumum di dunia teknik sipil.

Rasanya Kuliah di Teknik Sipil Itu..

Rasanya Kuliah di Teknik Sipil itu.. FUN :) yah berkuliah di jurusan yang menangani realisasi dari perencanaan pembangunan. simple nya jurusan yang menghitung kemungkinan bisa tidaknya sebuah rencana bangunan dibangun, atau lebih gampangnya lagi adalah jurusan tukang. adalah jurusan yang 90% peminatnya adalah cowok. dan saya adalah bagian dari jurusan ini. kalian bisa bayangkan, kelas saya. kelas H teknik sipil berjumlah 45 mahasiswa dengan komposisi mahasiswa cowok 43 orang dan mahasiswa cewek 3 orang (termasuk saya). kalau kelas kita dicampur, maksimal cewek dalam satu kelas adalah 9 orang. itu sudah paling banyak. keadaan seperti itu, setiap hari senin-jum'at.  di awal awal masa perkuliahan membuat saya berpikir kayaknya-saya-salah-jurusan-deh. bagi seorang mahasiswa yang selama SMP dan SMA selalu berada di ruang kelas yang satu kelas cewek semua, hal ini sangat baru bagi saya. tapi ini harus saya jalani. dari segi materi, di teknik sipil kamu tidak akan pernah b...

Rasanya Jadi Anak Kembar itu...

Rifa-Rusma Dek Fuad-Rusma-Rifa Rusma-Mom-Rifa Rifa-Rusma Rifa-Dad-Rusma Rifa-Rusma-Mom Menjadi anak kembar identik adalah takdir yang harus saya jalani, bahkan sebelum saya melihat dunia. ya, saya bersama dengan Rusma Fatimah Ma'rifah Akhsan mulai dari berbagi rahim  sampai sekarang.