Skip to main content

Balikpapan to Singapore: Perjalanan Menuju Hong Kong



Rabu, 17 April 2025 merupakan hari yang sudah saya doakan enam bulan lamanya. hari itu, memulai langkah pertama saya berangkat liburan ke belahan dunia yang lebih jauh. asia bagian timur. bukan lagi kawasan regional serumpun di tenggara benua asia.


Pesawat menuju Singapura dari Balikpapan berangkat menjelang maghrib. kami meninggalkan langit Bumi Etam di warnanya yang serupa emas. pesawat jenis Embraer milik maskapai Scoot Airlines melaju menuju tujuan dengan mulus. setiap melihat jenis pesawat ini, entah kenapa saya selalu merasa pesawat kecil ini mengingatkan saya dengan private jet. bentuk moncong dan ekor pesawat kelewat mirip. ya gapapa lah ya, manifestasi dulu. siapa tau, suatu hari nanti di masa depan tuhan izinkan saya naik private jet. Amin.


di penerbangan ini, Chief Steward menawarkan inflight meal. Beliau memohon maaf hanya tersisa satu menu. saya yang masih loading bingung maksudnya apa. lalu saya teringat keterangan di tiket pesawat bahwa meskipun penerbangan Balikpapan-Singapura dan sebaliknya dilayani oleh anak perusahaan Singapore Airlines (Scoot Airlines), tapi sebagai penumpang Singapore Airlines kita tetap dapat bagasi dan makanan. 


saya lalu berkata tidak apa apa saya makan apa yang ada asalkan halal. beliau meyakinkan saya bahwa makanan ini berasal dari dapur Singapura dan dipastikan halal.


lalu saya menerima makanan (semacam kari), cola dingin dengan es batu di gelas, serta coklat cadburry. sumpah coklatnya enak banget.


later on saya baru paham bahwa pesawat ini kan sistemnya turn around, dia berangkat dari Singapore ke Balikpapan lalu kembali lagi ke Singapore. nah, ketika penerbangan pulang (Singapore - Balikpapan) kami ditawari 2 pilihan makanan. mungkin itu sebabnya di penerbangan berangkat ini (Balikpapan - Singapore) tidak banyak pilihan makanan yang tersisa.




Singkat cerita, jam sembilan malam pesawat mendarat dengan selamat di terminal 1 Changi Airport. imigrasi berlangsung kurang dari semenit dan saya segera bergegas menuju MRT Station.


di Singapura saya menginap satu malam di daerah Joo Chiat. daerah yang sudah seperti rumah saya di Singapura. kemudian, setelah check inn saya lalu bergegas menuju Lau Pa Sat.







mungkin hari itu bukan takdir saya. Satay Stall Number 9 (Satay Geylang Serai) favorit saya di Lau Pa Sat udah beres beres mau pulang karena jualannya udah habis. yaudah mau gimana lagi, waktu saya di Singapura cuma malam itu karena besok paginya lanjut terbang ke Hong Kong jam 9 pagi.




Lalu saya menuju Olympic Walk. tujuannya mau duduk - duduk di bench yang ada di sana. karena saya jarang ke sisi Marina Bay yang ini. biasanya saya cenderung memilih duduk - duduk di dekat Art Science Museum/Double Helix Bridge, Merlion Park, atau Pelataran sekitar Esplanade. 








mungkin karena udah hampir tengah malam kali ya. saat itu di Olympic Walk udah sepi dari turis. di tengah gemerlap lampu financial district, saya justru melihat sisi "manusia" dari Singapura. berbarengan dengan saya, ada beberapa worker (yang saya yakin mereka Singaporean) memilih untuk berbaring sejenak di bench di sana. menutup mata dengan tangan, dan fisik yang tidak bisa berbohong dalam menahan lelah.


ada mungkin sepuluh sampai lima belas menitan mereka melakukan itu. menghela nafas dan memandangi gemerlap lampu yang begitu memukau bagi saya, tapi mungkin sudah tidak lagi istimewa bagi mereka. mereka kemudian beranjak pergi, mungkin untuk mengejar MRT terakhir.


saya lalu memperhatikan lebih teliti gedung - gedung pencakar langit di hadapan saya. dan sepertinya, masih ada yang bekerja di dalam sana. 



untuk alasan yang aneh, hal seperti ini yang membuat saya mencintai Singapura. para pekerja keras yang tidak mengeluh akan kerasnya hidup. mereka yang berusaha terus relevan dengan dunia yang somehow tidak memberi izin untuk bernafas. 


But they do, patiently, and consistently. 


Sesebentar apapun layover penerbangan saya, saya selalu berdoa untuk bisa kembali lagi mengirup udara Singapura. because they surely show me about the price of being first world country. the quality of life is extremely good but it's linier to work pressure and the mental health. and we all try to make it balance in harmony. 


terima kasih Singapura. I'll see you very soon.




Bontang, 31 July 2025





Riffat Akhsan, yang berdoa semoga tiga bulan lagi bisa ke Singapura

Comments

Popular posts from this blog

Hong Kong Day 3: Mengagumi Hong Kong Secara Pelan-Pelan

Halo, terima kasih untuk kamu yang kembali ke sini. kisah tentang Hong Kong sengaja saya ceritakan per hari, agar saya juga mengingat dengan syukur bahwa doa saya terkabul. bahwa mimpi saya terwujud. cuaca saat itu bagus (tidak terjadi thypoon). udara juga cocok untuk saya (pertengahan musim semi). dan semoga, kamu juga bisa meginjakkan kaki ke Hong Kong. Hari Ketiga di Hong Kong adalah harinya slow down. karena saya harus mengatur energi saya dengan baik. hari pertama dan kedua udah dar der dor banget. hari ketiga saya usahakan pace nya lebih lambat. di hari ketiga ini pula saya hanya jalan-jalan berdua dengan Fatimah. karena, Annisa ke Disneyland. KFC Wan Chai dan Jalan Masuk Menuju Wan Chai Market perjalanan kami mulai dari KFC Wan Chai sebagai tujuan sarapan. KFC ini adalah cabang KFC halal terdekat dari apartment, lokasinya persis di depan tram station. ternyata, menu yang ready saat itu baru menu - menu light meal ala KFC seperti sup krim dan omelette. sementara saya dan Fatimah ...

Rasanya Kuliah di Teknik Sipil Itu..

Rasanya Kuliah di Teknik Sipil itu.. FUN :) yah berkuliah di jurusan yang menangani realisasi dari perencanaan pembangunan. simple nya jurusan yang menghitung kemungkinan bisa tidaknya sebuah rencana bangunan dibangun, atau lebih gampangnya lagi adalah jurusan tukang. adalah jurusan yang 90% peminatnya adalah cowok. dan saya adalah bagian dari jurusan ini. kalian bisa bayangkan, kelas saya. kelas H teknik sipil berjumlah 45 mahasiswa dengan komposisi mahasiswa cowok 43 orang dan mahasiswa cewek 3 orang (termasuk saya). kalau kelas kita dicampur, maksimal cewek dalam satu kelas adalah 9 orang. itu sudah paling banyak. keadaan seperti itu, setiap hari senin-jum'at.  di awal awal masa perkuliahan membuat saya berpikir kayaknya-saya-salah-jurusan-deh. bagi seorang mahasiswa yang selama SMP dan SMA selalu berada di ruang kelas yang satu kelas cewek semua, hal ini sangat baru bagi saya. tapi ini harus saya jalani. dari segi materi, di teknik sipil kamu tidak akan pernah b...

Beryl’s Jalan Panggong Outlet - Kuala Lumpur

  "Riffat, ayo makan buah cokelat"  waktu itu dia petik buah kakao itu, dibukanya, dan disodorkan ke saya "buah cokelat" versi dia.  buah cokelat yang dalam kenyataannya adalah biji kakao. saya masih ingat, rasanya manis dan ada hint pahit. teksturnya seperti buah sirsak versi lebih padat.   rasanya itu adalah awal mula ketertarikan saya dengan cokelat. tetangga saya yang punya pohon kakao di rumahnya.  setelah pengalaman memakan biji kakao mentah itu, perjalanan saya dengan cokelat tidak jauh - jauh dari merek Silverqueen dan Toblerone. trus waktu abah saya pulang dari luar negeri, saya baru tau ada merek cokelat bernama Cadburry. sisanya, ya cokelat ayam murah yang lengket di lidah. lalu, suatu hari saya berkesempatan mengunjungi outlet cokelat ini di Kuala Lumpur. ini bukan sekedar outlet, dia punya costumer experience style yang memberikan transfer knowledge tentang proses bean to bar mulai dari biji kakao sampai ke bentuk akhir cokelat siap makan. mung...