Slider

17 December

 

"Riffat, ayo makan buah cokelat" 

waktu itu dia petik buah kakao itu, dibukanya, dan disodorkan ke saya "buah cokelat" versi dia. 

buah cokelat yang dalam kenyataannya adalah biji kakao. saya masih ingat, rasanya manis dan ada hint pahit. teksturnya seperti buah sirsak versi lebih padat.  

rasanya itu adalah awal mula ketertarikan saya dengan cokelat. tetangga saya yang punya pohon kakao di rumahnya. 


setelah pengalaman memakan biji kakao mentah itu, perjalanan saya dengan cokelat tidak jauh - jauh dari merek Silverqueen dan Toblerone. trus waktu abah saya pulang dari luar negeri, saya baru tau ada merek cokelat bernama Cadburry. sisanya, ya cokelat ayam murah yang lengket di lidah.


lalu, suatu hari saya berkesempatan mengunjungi outlet cokelat ini di Kuala Lumpur. ini bukan sekedar outlet, dia punya costumer experience style yang memberikan transfer knowledge tentang proses bean to bar mulai dari biji kakao sampai ke bentuk akhir cokelat siap makan.



mungkin pengetahuan ini yang selama ini ingin saya cari tau. gap process antara biji kakao yang diberikan tetangga saya dan cokelat siap makan pabrikan yang dibelikan orangtua saya. 




berlokasi di sebuah shophouses di area Chinatown, Bery'ls Chocolate membangkitkan kembali mimpi saya tentang cokelat. setelah makan biji kakao mentah, makan toblerone, dan menonton film tentang Willy Wonka (Charlie and The Chcocolate Factory) ribuan kali. 




arsitekturnya sangat presisi dalam hal fungsi bangunan namun tetap estetik sehingga membuat proses "pembelajaran cokelat" ini tidak terasa seperti di museum. 




tata letak produknya juga pas. ia diatur sebagai bagian dari keseluruhan costumer experience journey mulai dari pintu masuk sampai pintu berikutnya dalam satu garis lurus. 



mengunjungi Beryl's outlet yang ini bisa banget kamu masukkan ke itinerary kamu. tidak membeli apa - apapun, rasanya tetap menyenangkan. 

terima kasih sudah membaca, semoga kita bertemu di nyata. 




Bontang, 17 Desember 2025




Riffat Akhsan















01 December


kalau ada nominasi kota paling estetik, saya nobatkan Goergetown di Penang adalah juaranya. kota ini merupakan surga bagi penyuka arsitektur dan interior. mungkin karena lokasi geografis yang eksotis, dan promosi kepada segmen yang tepat membuat pembangunan hunian menengah-mewah vertikal amat sangat masif di kota ini. 

sesuatu yang membuat mudah sekali menemukan mock up interior kamar tidur atau dapur di pinggir jalan. display promosi para vendor interior di Kota ini.

diantara itu semua, industri cafe juga tampil tak kalah cantik. ribuan video bisa kamu temukan di tiktok hanya bermodal keyword "penang aesthetic cafe".


namun Jing-Si books and cafe seemly is under the radar. saya dan Fatimah tidak sengaja menemukan tempat ini ketika jalan kaki dari Lebuh Pantai menuju Padang.

interiornya yang "Cina Banget" menarik perhatian saya dan saya pun mengajak Fatimah untuk mampir. cafe ini, suasanya "beda". ada kelas tersendiri yang dihembuskan vibes tempat ini. seperti sebuah kalangan tertentu yang ingin menyapa dan memperkenalkan diri.


bagi saya, masuk ke Cafe ini berasa diajak masuk ke rumah orang kaya lama  beretnis Tionghoa. relevan, rapi, dan memiliki aura kekayaan tak terbantahkan.


saya betul-betul terhipnotis oleh vibes dari tempat ini. ada persuasi sistematis di balik tata letaknya yang rapi. keramaian dalam hening. cafe ini ramai, namun setiap pengunjung "ditekan" oleh suasana untuk "well behave". ada intimidasi yang menyihir yang belum pernah saya rasakan seumur hidup saya.


kami masuk dan disambut oleh semacam "tour guide" yang meminta kami untuk melepas sepatu dan meletakkannya di tempat yang sudah disediakan. kemudian saya dan Fatimah ditemani dan diajak berkeliling oleh salah seorang dari mereka. perempuan dengan mata bening namun tidak terlalu mahir berbahasa inggris.


belakangan saya sadari, para tour guide di sini tidak menemani semua pengunjung yang datang. entah profiling macam apa yang mereka lakukan untuk memutuskan pengunjung mana yang ditemani berkeliling dan yang mana yang dibiarkan berkeliling sendiri.


basicly tempat ini adalah campuran dari beberapa fungsi bangunan: tempat ngopi sekaligus flagship tea house, meeting room (open and private), toko souvenir dan oleh - oleh eksklusif, toko buku dan ATK, juga tempat makan yang proper. 




every details is so philosophic. turns out ternyata tempat ini dikelola oleh yayasan Tzu Chi yang berasal dari Taiwan. tour guide yang menemani saya dan Fatimah menceritakan riwayat hidup master Cheng Yen (pendiri yayasan) dan semangat berbagi beliau yang menjelaskan relevansi beberapa detail yang hadir di interior tempat ini. 


saya belajar tentang kebijaksanaan dan kedermawanan di tempat ini. bahwa menjadi bijaksana dan dermawan tidak perlu diberikan aksesoris yang dramatis dan teatrikal. you can be wise and being philantropic but still classy and quiet at the same time. 


maybe this is the spirit of this place. stay quiet, but confident in your class. contributes without making loud. 









kembali ke interior, tempat ini menarik perhatian saya karena memiliki dua bar yang terpisah. coffee bar yang terletak di depan dekat pintu masuk. serta tea bar yang berada jauh di dalam persis di bawah tangga.

ah, this is my tea sanctuary that I was looking for.


saya tuh anaknya nggak "kena" filosofi kopi seberapapun saya mencoba. I do drink coffee on my daily basis. but moreover, I find a peace on tea.

maybe they were true. coffee to go. tea to stay. 




all in all, tempat ini adalah salah satu highlight yang paling saya syukuri dari perjalanan saya ke Penang di awal tahun 2024 itu. sebuah kunjungan tidak sengaja namun benar - benar membentuk diri saya yang hari ini.

tentang teh, kebijaksanaan, and how to be confident with whatever God gives to me. 


terima kasih sudah membaca sampai sini, saya sangat senang bertemu dengan kamu dalam maya. semoga kita bisa bertemu dalam nyata ya !



Bontang, 1 Desember 2025




Riffat Akhsan 


16 November


Halo, terima kasih untuk kamu yang kembali ke sini. kisah tentang Hong Kong sengaja saya ceritakan per hari, agar saya juga mengingat dengan syukur bahwa doa saya terkabul. bahwa mimpi saya terwujud. cuaca saat itu bagus (tidak terjadi thypoon). udara juga cocok untuk saya (pertengahan musim semi). dan semoga, kamu juga bisa meginjakkan kaki ke Hong Kong.

Hari Ketiga di Hong Kong adalah harinya slow down. karena saya harus mengatur energi saya dengan baik. hari pertama dan kedua udah dar der dor banget. hari ketiga saya usahakan pace nya lebih lambat. di hari ketiga ini pula saya hanya jalan-jalan berdua dengan Fatimah. karena, Annisa ke Disneyland.

KFC Wan Chai dan Jalan Masuk Menuju Wan Chai Market

perjalanan kami mulai dari KFC Wan Chai sebagai tujuan sarapan. KFC ini adalah cabang KFC halal terdekat dari apartment, lokasinya persis di depan tram station. ternyata, menu yang ready saat itu baru menu - menu light meal ala KFC seperti sup krim dan omelette. sementara saya dan Fatimah craving for ayam goreng berlumur tepung yang crispy itu. akhirnya kami putuskan cari sarapan di pasar Wan Chai yang (setau saya) memiliki beberapa toko Indonesia. toko - toko ini menjual nasi bungkus untuk para diaspora Indonesia di Hong Kong. benar saja, saya dan Fatimah dapat AYAM LENGKUAS untuk sarapan. 

oke, mari balik dulu ke apartment. memasak nasi. lalu sarapan.

ayam lengkuas dan kerupuk

perjalanan balik menuju apartment via tram

kelar sarapan, saya dan Fatimah memutuskan naik tram menuju Quarry Bay. tujuan kami adalah melihat dinamika pemukiman Hong Kong di luar area central. 



Quarry Bay adalah area timur Hongkong yang merupakan area padat penduduk dengan fungsi bangunan campuran. letaknya di bawah Parker Mountain. salah satu bangunan ikonik di Quarry Bay adalah Monster Building yang dijadikan salah satu latar belakang film Box Office dunia (saya lupa judulnya). saya dan Fatimah memutuskan untuk tidak ke Monster Building karena entah kenapa tiba-tiba merasa sesak saja. We Just Can't Bear with The Cramps.





namun demikian, kami benar-benar bisa merasakan kebahagiaan warga Hong Kong saat menyaksikan kegiatan sosial mereka di Victoria Park (waktu itu ada lomba) dan beberapa kegiatan yang "meriah" ala warga di sana. dan tentu saja, bahagia itu semakin membuncah ketika melewati gedung Hong Kong Central Library. namun, kami belum sempat mampir karena lagi ada rencana lain di Time Square.




yes, rencana kami ke area Time Square adalah untuk cari Matcha. lebih spesifiknya untuk mengunjungi The Matcha Tokyo. 



tidak seperti dugaan kita, The Matcha Tokyo tidak antri panjang seperti cabang-cabang lain yang kami tau. proses pemesanan juga cenderung sedikit lebih santai dimana kami masih bisa berdiskusi dengan baristanya tentang profil matcha yang kami inginkan. kelar beli Matcha, kami jalan - jalan sebentar di Muji dan area sekitar time square dan membeli Jam Tangan untuk abah. 

perjalanan pun berakhir dengan berjalan kaki pulang ke Apartment. lalu malamnya makan KFC Wan Chai. hari itu memang tidak padat, tapi saya benar-benar bisa memasukkan "asli" nya Hong Kong Island ke dalam core memory saya. sebuah pulau dimana para manusianya hidup bertumpuk dan berhimpitan, namun anehnya tetap merasa bahagia dan baik-baik saja. 

refleksi untuk saya, yang seringkali merasa sempit hati. dan pusing sendiri. 

terima kasih sudah membaca sampai sini, semoga harimu bahagia.



Bontang, 16 November 2025



Riffat Akhsan








Faizah and Her Enchanting Journey | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi