Skip to main content

Antara Fungsional dan Eksklusivitas

sebagai seorang mahasiswa dengan kondisi finansial pas-pas an. saya adalah satu dari ribuan mahasiswa yang begitu awal bulan, otak kita langsung bertransformasi jadi kalkulator, mengatur finansial secara cermat biar cukup sampai akhir bulan.

sebagai perempuan biasa, kadang saya juga pengen kok punya barang branded yang harganya membuat kehidupan mahasiswa saya terancam melarat.

disinilah kecermatan untuk memisahkan antara fungsional dan eksklusivitas berperan.

saya adalah orang yang sebelum membeli sesuatu selalu melihat kapasitas fungsi dan eksklusivitas untuk melihat harga itu menitikberatkan kemana.

misal, jam tangan dan kacamata. kacamata yang saya pakai saya beli dengan banderol seharga gaji sebulan seorang PNS golongan 3. mahal ? tunggu dulu, alasan saya beli kacamata itu adalah, saya sudah 7 tahun berkacamata, dan selalu ceroboh dengan kacamata saya. kacamata mata saya sering penyok, tangkainya copot, terinjak, terduduki, kadang kegencet waktu saya tidur,dll saya sadari itu semua karena kecerobohan saya. dan saya adalah seseorang yang "tidak akan membeli baru untuk barang-barang yang melekat di siri saya yang di saya, kecuali barang itu rusak"

maksud saya bukan seperti baju, tas, sepatu yang memang harus dikondisikan dengan keperluan, ga mungkin kan saya pakai tas yang sama untuk kuliah dan untuk kondangan ? maksud saya adalah barang-barang paten yang melekat di diri saya seperti kacamata, jam tangan, dll

memang bias ya, cuma kacamata aja kok harganya sampai segitu, untuk anda yang memiliki kehati-hatian tinggi, itu memang mahal. tapi untuk seseorang seceroboh saya, memiliki kacamata super-tahan-banting seperti itu harga segitu adalah murah. daripada saya setiap bulan beli kacamata terus gara-gara frame nya kenapa napa karena kecerobohan saya, itu jauh lebih mahal kan ?

ceroboh itu karakter saya dari kecil bung, lebih baik untuk membeli barang yang sesuai dengan karakter saya daripada harus merubah karakter saya hanya karena sebuah barang.

soal jam tangan juga sama, saya adalah orang yang kurang sayang sama barang, jam tangan saya sering saya pake meskipun saya snorkeling atau diving, suka kebentur tembok secara ga sengaja (lagi lagi karena kecerobohan saya) suka kelempar jatuh dari tas saya, dll maka dari itu saya memakai jam tangan yang saya beli dengan harga sepadan dengan rata-rata harga sewa kamar kost di daerah keputih per bulan.

tapi lain dengan gadget, saya dari dulu bermimpi untuk punya iphone. dan selalu berusaha untuk menyisihkan uang saya untuk menabung untuk membeli barang itu. tapi ketika saya analisis, untuk sebuah handphone berkamera, yang bisa dengerin lagu dan online, (lupakan soal siri, saya juga ga paham sepenting apa teknologi siri itu) harga segitu (sekitar 4-5 juta) jelas sangat menitikberatkan pada eksklusivitas, gampangan nya biar yang make iphone terupgrade gengsinya.

jadi guess what ? saya hanya memakai handphone dengan fungsi kurang lebih sama namun dibanderol dengan harga rata-rata handphone mahasiswa. tidak terlalu mahal, tidak juga terlalu murah.

begitu juga dengan laptop, saya selalu bermimpi untuk bisa punya macbook pro, tapi setelah saya timbang lagi,brand lain dengan harga yang sama memberikan fungsi yang lebih baik dibanding brand itu. fix kesimpulan nya harga segitu untuk sebuah laptop yang kalau dibanting juga sama sama rusak, harga itu adalah harga untuk menjual eksklusivitas. akhirnya pilihan saya jatuh pada brand sony, tidak terlalu "nelangsa' tidak juga terlalu branded.

menekankan pada fungsional bukan berarti membeli barang murahan, tapi membeli barang yang benar benar berharga untuk kita beli. berharga itu berarti, menurut hemat kita, kita pantas mengeluarkan uang penghasilan kita untuk barang itu. tidak semua barang berharga di pasaran berharga untuk dibeli oleh diri kita.

memang ada fase nanti dimana kita sudah mapan, kita akan merindukan eksklusivitas dimana kita mendapat sesuatu yang tidak semua orang bisa mendapatkan nya, tapi itu nanti, ketika kondisi finansial kita siap untuk fase itu. dan jelas bukan pada fase seorang mahasiswa.



Surabaya, 30 September 2013
Best Regards,



Riffat Akhsan

Comments

Popular posts from this blog

Mitos Mitos Tentang Teknik Sipil

salah satu mahasiswa teknik sipil yang lagi praktikum ukur tanah kembali lagi tentang teknik sipil, terima kasih kepada sumber lalu lintas yang menerangkan bahwa semakin banyak yang kepo tentang teknik sipil. juga kepo tentang saya :D tapi ada hal yang membuat saya tergerak untuk menulis tulisan ini, karena mayoritas kata kunci yang dimasukkan tentang teknik sipil adalah tentang mitos mitos teknik sipil yang masih belum ada yang mengulasnya. okeh, dibawah ini adalah mitos terumum di dunia teknik sipil.

Rasanya Kuliah di Teknik Sipil Itu..

Rasanya Kuliah di Teknik Sipil itu.. FUN :) yah berkuliah di jurusan yang menangani realisasi dari perencanaan pembangunan. simple nya jurusan yang menghitung kemungkinan bisa tidaknya sebuah rencana bangunan dibangun, atau lebih gampangnya lagi adalah jurusan tukang. adalah jurusan yang 90% peminatnya adalah cowok. dan saya adalah bagian dari jurusan ini. kalian bisa bayangkan, kelas saya. kelas H teknik sipil berjumlah 45 mahasiswa dengan komposisi mahasiswa cowok 43 orang dan mahasiswa cewek 3 orang (termasuk saya). kalau kelas kita dicampur, maksimal cewek dalam satu kelas adalah 9 orang. itu sudah paling banyak. keadaan seperti itu, setiap hari senin-jum'at.  di awal awal masa perkuliahan membuat saya berpikir kayaknya-saya-salah-jurusan-deh. bagi seorang mahasiswa yang selama SMP dan SMA selalu berada di ruang kelas yang satu kelas cewek semua, hal ini sangat baru bagi saya. tapi ini harus saya jalani. dari segi materi, di teknik sipil kamu tidak akan pernah b...

Rasanya Jadi Anak Kembar itu...

Rifa-Rusma Dek Fuad-Rusma-Rifa Rusma-Mom-Rifa Rifa-Rusma Rifa-Dad-Rusma Rifa-Rusma-Mom Menjadi anak kembar identik adalah takdir yang harus saya jalani, bahkan sebelum saya melihat dunia. ya, saya bersama dengan Rusma Fatimah Ma'rifah Akhsan mulai dari berbagi rahim  sampai sekarang.