Skip to main content

Dek, Gantungkan Cita-Citamu Setinggi Langit

di sudut jalan, adik kecil itu duduk sambil menggenggam dua bungkus makanan kecil yang kami (volunteer Save Street Child Surabaya) bagikan. umurnya masih kecil, dia salah satu siswa TK di daerah sub urban Surabaya.



saya dekati dia, tidak seperti teman-teman nya yang tertawa dan menyanyi, dia, sebut saja Bunga (bukan nama sebenarnya) terlihat murung dan sangat takut dengan orang baru. saya datangi dia, saya duduk di sampingnya dan dia mencium tangan saya (hal yang selalu dilakukan adik adik Save Street Child Surabaya ketika bertemu dan pamitan kepada kakak kakak pengajar) yang saya lanjutkan dengan mencium keningnya. iya, saya terlanjur sayang dengan adik-adik jalanan dan marjinal ini.

"kok ga dimakan ?" tanya saya pada Bunga, sebut saja begitu.

"ini buat nenekku, trus ini buat besok aku makan di sekolah"

saya tersenyum, dia yang awalnya merasa tidak nyaman juga ikut tersenyum bersama saya.

"dek, cita-cita kamu pengen jadi apa ?" saya bertanya, menurut saya anak TK adalah anak dengan sejuta cita-cita, mulai dari yang mungkin sampai yang (menurut orang dewasa) tidak mungkin.

"cita-citaku pengen telur puyuh yang dijual ayah sama ibu selalu habis terjual"

saya terdiam, bukan ini jawaban yang saya harapkan. tapi lidah saya terlalu kelu untuk menanggapi jawaban polos tersebut.

saya peluk Bunga dan kami berdua berpelukan dalam diam. Bunga lantas bertanya pada saya "kenapa mata kakak kayak orang nangis" yang saya jawab dengan senyuman, saya takut kalau saya bilang "gapapa" air mata itu semakin menetes.

saya ingat ketika saya seumur bunga saya menulis daftar panjang cita-cita saya, mulai dari pengen jadi pengusaha hotel, notaris, arkeolog, penulis, fotografer, sampai pengen jadi persis seperti ayah saya (iya ayah saya adalah seorang insinyur sipil yang hampir setiap minggu selalu mengajak saya mengunjungi proyek-proyek pembangunan) saya tidak pernah bercita-cita menjadi DOKTER. dan Alhamdulillahi rabbil alamin, tiga dari cita cita yang saya tulis terwujud, yaitu persis seperti ayah saya (insinyur sipil), penulis dan fotografer.

saya memandang di jaman saya TK teknologi informasi belum secanggih sekarang, sulit dipercaya bahwa Bunga (bisa dikatakan) tidak punya cita-cita.

mungkin istilah "gantungkan cita-citamu setinggi langit" terdengar konyol sekali sekarang bahkan ada yang menjadikan itu lelucon "gantungin cita cita jangan setinggi langit, setinggi langit kamar aja dulu. ntar kalo setinggi langit kalo ga kesampean jatoh" atau "gantungin cita-cita jangan setinggi langit lah, kalau dapetin hati kamu aja susah"

oke, lupakan berbagai macam jokes tentang cita-cita.

saya tersadar, inilah hidup. banyak warna, banyak realita, banyak kejutan. ada banyak sekali Bunga-Bunga yang lain yang belum pernah saya temui yang hanya tau tentang pedih, perih, dan kesedihan betapa hidup terlalu keras, setidaknya menurut kacamata saya.

mereka boleh tidak memiliki segalanya, tapi saya tidak bisa menerima kalau mimpi saja mereka tidak punya. kita bisa hidup hanya dari mimpi, karena mimpi kita menjadi berusaha, tapi bunga ? mudah sekali dia terbawa arus kehidupan karena untuk bermimpi saja dia tidak sanggup.

bagi saya, mimpi adalah hidup. ketika kita tidak bermimpi itu artinya kita tidak hidup. apa artinya ? kita tidak lebih dari seonggok daging yang menjalani aktifitas layaknya manusia.

Save Street Child Surabaya  mengajarkan saya bahwa matinya mimpi adik-adik seperti Bunga tidak boleh dibiarkan, ini menjadi tanggung jawab bersama. mereka harus memiliki harta terbesar itu : mimpi.

ada harapan besar ketika saya memutuskan untuk bergabung dengan komunitas ini, salah satunya harapan untuk menumbuhkan kepercayaan diri bahwa adik-adik ini luar biasa, mereka hebat, mereka brilian, nasib mereka memang tidak seberuntung kita, tapi dengan langkah kecil yang pasti sedikit demi sedikit kepercayaan diri adik-adik akan muncul dan bersinar, temasuk kepercayaan diri untuk membentuk mimpi dan meraih mimpi, yang dalam hal ini termasuk cita cita.

gantungkan cita-citamu setinggi langit dek... kamu masih muda, masih banyak waktu untuk meraih dan mewujudkan mimpi, tuhan akan memeluk mimpi mimpimu. kamu hanya butuh yakin dan percaya. tuhan itu maha baik, ia yang akan bertanggung jawab dengan hidupmu.




Surabaya, 21 April 2014



Rifa Akhsan








Comments

Popular posts from this blog

Mitos Mitos Tentang Teknik Sipil

salah satu mahasiswa teknik sipil yang lagi praktikum ukur tanah kembali lagi tentang teknik sipil, terima kasih kepada sumber lalu lintas yang menerangkan bahwa semakin banyak yang kepo tentang teknik sipil. juga kepo tentang saya :D tapi ada hal yang membuat saya tergerak untuk menulis tulisan ini, karena mayoritas kata kunci yang dimasukkan tentang teknik sipil adalah tentang mitos mitos teknik sipil yang masih belum ada yang mengulasnya. okeh, dibawah ini adalah mitos terumum di dunia teknik sipil.

Rasanya Kuliah di Teknik Sipil Itu..

Rasanya Kuliah di Teknik Sipil itu.. FUN :) yah berkuliah di jurusan yang menangani realisasi dari perencanaan pembangunan. simple nya jurusan yang menghitung kemungkinan bisa tidaknya sebuah rencana bangunan dibangun, atau lebih gampangnya lagi adalah jurusan tukang. adalah jurusan yang 90% peminatnya adalah cowok. dan saya adalah bagian dari jurusan ini. kalian bisa bayangkan, kelas saya. kelas H teknik sipil berjumlah 45 mahasiswa dengan komposisi mahasiswa cowok 43 orang dan mahasiswa cewek 3 orang (termasuk saya). kalau kelas kita dicampur, maksimal cewek dalam satu kelas adalah 9 orang. itu sudah paling banyak. keadaan seperti itu, setiap hari senin-jum'at.  di awal awal masa perkuliahan membuat saya berpikir kayaknya-saya-salah-jurusan-deh. bagi seorang mahasiswa yang selama SMP dan SMA selalu berada di ruang kelas yang satu kelas cewek semua, hal ini sangat baru bagi saya. tapi ini harus saya jalani. dari segi materi, di teknik sipil kamu tidak akan pernah b...

Rasanya Jadi Anak Kembar itu...

Rifa-Rusma Dek Fuad-Rusma-Rifa Rusma-Mom-Rifa Rifa-Rusma Rifa-Dad-Rusma Rifa-Rusma-Mom Menjadi anak kembar identik adalah takdir yang harus saya jalani, bahkan sebelum saya melihat dunia. ya, saya bersama dengan Rusma Fatimah Ma'rifah Akhsan mulai dari berbagi rahim  sampai sekarang.