Skip to main content

Pembukaan World Book Day 2014


sabtu, 12 April 2014 atas undangan kak Ipung (Dhahana Adi) salah satu narasumber dalam pembukaan World Book Day 2014 di Surabaya, berangkatlah saya dan Rusma ke perpustakaan Bank Indonesia Mayangkara. yang tidak saya sangka adalah hari itu bertepatan dengan peresmian perpustakaan Bank Indonesia yang diresmikan oleh bu Risma, walikota Surabaya. salah satu inti pidato dari Bu Risma adalah tingkatkan selalu kreatifitas dengan banyak membaca.





sarasehan yang saya hadiri dalam peringatan world book day berjudul "Surabaya, sejarah dan masa depannya" ini menghadirkan empat narasumber, yaitu Professor Johan Silas, Dukut Imam Widodo, Oei Hiem Hwie dan kak Dhahana Adi. mereka semua adalah pemerhati sejarah, khususnya sejarah Surabaya.


pak Oei adalah pemilik perpustakaan Medayu Agung di daerah rungkut. pak Oei pernah menulis bersama Pramoedya Ananta Toer. idola saya. walaupun banyak yang membenci Pram karena dia diisukan mendukung aliran komunisme, tapi bagi saya itu hak dia (pram) saya hanya seorang pengagum tulisannya, terserah orang lain mau menjelekkan pram seperti apa, kenyataan nya baru pram wakil Indonesia yang namanya berkali kali muncul dalam nominasi pemenang nobel sastra.

selama ini saya menganggap Pram hanya hidup dalam sejarah, sampai akhirnya saya bertemu dengan pak Oei. menyenangkan rasanya bertemu dengan orang yang pernah hidup bersama idola kita yang hanya kita ketahui dari sejarah.

sayang sekali saya tidak sempat berfoto bersama pak Oei karena beliau sibuk diajak foto bersama oleh berbagai komunitas dan diwawancara oleh berbagai media.

sebelum kami berpisah saya sempat bertanya apa yang membuat pak Oei terpikir untuk membuat perpustakaan pribadi, dan beliau menjawab "karena ketika itu saya melihat anak muda semakin waktu idealismenya semakin terkikis oleh paham Vandalisme, harus ada yang membukakan mata mereka tentang nasionalisme"

perpustakaan pak Oei menyimpan arsip arsip sejarah, surat kabar jaman dahulu, termasuk tulisan tangan Pramoedya Ananta Toer. saya diundang untuk berkunjung ke perpustakaan beliau yang sayangnya saya belum berkesempatan untuk kesana.

perpustakaan milik pak Oei (perpustakaan Medayu Agung) bertempat di  JL Medayu Selatan IV / 42 - 44 Medokan Ayu Rungkut Surabaya 60401 telp (031) 8703505 email : perpus_ma (at) yahoo (dot) com

perpustakaan Medayu Agung tidak memiliki buku tentang science, buku buku disana mayoritas tentang politik sosial dan sejarah.

kembali membahas tentang perputakaan Bank Indonesia, Perpustakaan ini dulunya adalah rumah dinas Direktur Utama The Javasche Bank pada jaman kolonial Belanda, setelah Indonesia merdeka Rumah dinas ini difungsikan menjadi perpustakaan Mpu Tantular dengan asset menjadi hak milik Bank Indonesia Surabaya, setelah museum Mpu Tantular dipindah ke Sidoarjo, kini rumah dinas itu difungsikan menjadi Perpustakaan Bank Indonesia.



buku buku yang dimiliki perpustakaan ini sesuai namanya, mayoritas tentang ekonomi dan perbankan, tapi secara umum semua jenis buku menurut disiplin ilmu  ada di perpustakaan ini.

karena perpustakaan ini dulunya adalah rumah, maka tidak heran suasana di sini begitu homy didukung dengan ruangan ruangan yang memiliki fungsi nya sendiri, ada ruang bermain anak-anak, ruang komputer, dll tapi yang paling sering kita temui adalah sofa duduk nyaman yang kalau kita duduk disana sambil membaca buku, kemungkinan akan lupa waktu.

ruang duduk yang lebih dari satu dan sedikit jauh dengan ruang baca memungkinkan kamu yang suka berdiskusi dengan teman akrab untuk berkunjung ke sini kalau pengen ganti suasana, hai diskusi ga selalu di mall dengan segelas kopi seharga minimal empat puluh ribu rupiah kan ?





sebagai salah satu pendukung dunia kepustakaan, pak Oei selaku pemilik perputakaan Medayu Agung juga menyumbangkan koleksi surat kabar dahulu.




saya hanya berharap, dengan hadirnya perpustakaan Bank Indonesia ini bisa berkontribusi besar untuk meningkatkan kunjungan generasi muda ke perpustakaan, dan menghilangkan pakem perpustakaan = kutu buku, ada banyak hal yang bisa dilakukan di perpustakaan selain membaca.

bangsa yang besar adalah bangsa yang mengerti tentang sejarah, dan salah satu cara mengetahui sejarah adalah dengan membaca.



Surabaya, 21 April 2014



Rifa Akhsan

Photo Taken By : Rusma Akhsan

Comments

Popular posts from this blog

Mitos Mitos Tentang Teknik Sipil

salah satu mahasiswa teknik sipil yang lagi praktikum ukur tanah kembali lagi tentang teknik sipil, terima kasih kepada sumber lalu lintas yang menerangkan bahwa semakin banyak yang kepo tentang teknik sipil. juga kepo tentang saya :D tapi ada hal yang membuat saya tergerak untuk menulis tulisan ini, karena mayoritas kata kunci yang dimasukkan tentang teknik sipil adalah tentang mitos mitos teknik sipil yang masih belum ada yang mengulasnya. okeh, dibawah ini adalah mitos terumum di dunia teknik sipil.

Rasanya Kuliah di Teknik Sipil Itu..

Rasanya Kuliah di Teknik Sipil itu.. FUN :) yah berkuliah di jurusan yang menangani realisasi dari perencanaan pembangunan. simple nya jurusan yang menghitung kemungkinan bisa tidaknya sebuah rencana bangunan dibangun, atau lebih gampangnya lagi adalah jurusan tukang. adalah jurusan yang 90% peminatnya adalah cowok. dan saya adalah bagian dari jurusan ini. kalian bisa bayangkan, kelas saya. kelas H teknik sipil berjumlah 45 mahasiswa dengan komposisi mahasiswa cowok 43 orang dan mahasiswa cewek 3 orang (termasuk saya). kalau kelas kita dicampur, maksimal cewek dalam satu kelas adalah 9 orang. itu sudah paling banyak. keadaan seperti itu, setiap hari senin-jum'at.  di awal awal masa perkuliahan membuat saya berpikir kayaknya-saya-salah-jurusan-deh. bagi seorang mahasiswa yang selama SMP dan SMA selalu berada di ruang kelas yang satu kelas cewek semua, hal ini sangat baru bagi saya. tapi ini harus saya jalani. dari segi materi, di teknik sipil kamu tidak akan pernah b...

Rasanya Jadi Anak Kembar itu...

Rifa-Rusma Dek Fuad-Rusma-Rifa Rusma-Mom-Rifa Rifa-Rusma Rifa-Dad-Rusma Rifa-Rusma-Mom Menjadi anak kembar identik adalah takdir yang harus saya jalani, bahkan sebelum saya melihat dunia. ya, saya bersama dengan Rusma Fatimah Ma'rifah Akhsan mulai dari berbagi rahim  sampai sekarang.