Skip to main content

Ketika Anak Kost Dikarbit Menjadi Anak Rumahan

time flies... hidup selalu berjalan dengan kejutan kejutan istimewa yang diberikan tuhan pada hambanya. cerita ini berawal ketika orang tua saya memindahkan saya dan Rusma dari kamar kost di daerah mayoritas mahasiswa kampus teknologi di timur Surabaya ke rumah sederhana di perumahan yang terjamin keamanan nya (setidaknya menurut orang tua saya) di daerah Surabaya Timur.



menempati rumah transit orang tua saya (karena sebenarnya rumah ini ditinggali untuk kepentingan orangtua dan keluarga saya agar mereka punya tempat di Surabaya) membuat saya "dikarbit" oleh tuhan dari yang awalnya adalah anak kost menjadi anak rumahan. berikut bentuk "karbitan" tuhan pada saya :

1. kemana mana jauh
ini sangat terasa dengan jarak rumah - kampus yang tidak sedekat kost - kampus sehingga berpengaruh terhadap frekuensi ke SPBU. jauh dari daerah mahasiswa berarti jauh dari fasilitas pendukung kegiatan perkuliahan, seperti fotocopy-an, toko alat tulis super lengkap, print-print-an, toko tempat beli tinta printer, dan lain lain

2. melatih kepekaan sosial
ketika berstatus anak kost, fokus saya hanya pada kuliah - nugas - main. tapi sekarang saya harus care  dengan tetangga, petugas security, tukang sampah, tukang rumput, tukang kebun, dan lain lain

3. berpikir layaknya ibu rumah tangga
menjadi anak kost ketika lapar langsung berpikir "hari ini makan di warung mana ya" tetapi anak rumahan ketika lapar langsung berpikir "hari ini aku masak apa" yang otomatis berurusan dengan tagihan listrik, tagihan air, belanja sayur mingguan ke pasar, belanja kebutuhan bulanan ke supermarket. dll

4. tanggung jawab kebersihan meningkat
dulu waktu masih menempati kamar kost seluas 3,5 x 4 meter ketika tugas besar menjajah waktu tidur dan waktu main, saya hanya memikirkan "kapan bersihin kamar yang kayak kapal pecah ini ya" sementara di rumah saya tidak hanya memikirkan kebersihan kamar saja, tapi  dapur, halaman, garasi, ruang tamu, kamar mandi , dll juga harus dipikirkan

saya jadi paham kenapa mereka yang berstatus anak rumahan cenderung jarang keluar rumah karena ada banyak sekali yang bisa dilakukan di dalam rumah, berbeda dengan anak kost yang asyik banget diajak jalan keluar karena di kamar sesempit itu kita (termasuk saya) cendenrung mudah bosan.

apapun bentuk tempat tinggalnya, semua pasti punya kelebihan dan kekurangan. saya belajar untuk berhenti membandingkan, yang jelas dimanapun saya tinggal. itu tempat tinggal terbaik yang tuhan kasih untuk saya.


Fajar Halaman Rumah
Surabaya, 3 Mei 2014



Rifa Akhsan

Comments

  1. Enaknya jadi anak kost itu bisa melatih diri jadi mandiri kalo di rumah terus terlalu dimanja oleh orang tua. Tapi terkadang sangat "ngga enak Banget" ketika uang kita habis untuk fotokopi materi kuliah sedangkan kost belum di bayar, listrik, air, makan tiap hari mie goreng kadang mie mentah :'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. memang salah satu resiko tinggal di kost itu makan ga ada yang jamin :(

      Delete
  2. Enakan tinggal dirumah dong kalo menurut aku, selain ruangannya lebih luas kalo masalah makan-->memasak juga enak karena bisa sekalian belajar masak

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaaa belajar masak itu yang penting. mau gamau harus bisa masak -___-

      Delete
  3. Dirimu masih enak tinggal sama saudaramu mbak. Kalau sendiri ngurus rumah itu yang repot.

    ReplyDelete
  4. tinggal dimanapun ada resikonya, ada enaknya, ada gak enaknya juga

    ReplyDelete

Post a Comment

pembaca yang baik, terima kasih telah berkunjung ke sini. silahkan meninggalkan kritik, saran, pesan, kesan, dan apresiasi untuk saya menulis lebih baik lagi. terima kasih pula untuk tidak nge-Spam di Blog Saya :)



Popular posts from this blog

Rasanya Kuliah di Teknik Sipil Itu..

Rasanya Kuliah di Teknik Sipil itu.. FUN :) yah berkuliah di jurusan yang menangani realisasi dari perencanaan pembangunan. simple nya jurusan yang menghitung kemungkinan bisa tidaknya sebuah rencana bangunan dibangun, atau lebih gampangnya lagi adalah jurusan tukang. adalah jurusan yang 90% peminatnya adalah cowok. dan saya adalah bagian dari jurusan ini. kalian bisa bayangkan, kelas saya. kelas H teknik sipil berjumlah 45 mahasiswa dengan komposisi mahasiswa cowok 43 orang dan mahasiswa cewek 3 orang (termasuk saya). kalau kelas kita dicampur, maksimal cewek dalam satu kelas adalah 9 orang. itu sudah paling banyak. keadaan seperti itu, setiap hari senin-jum'at.  di awal awal masa perkuliahan membuat saya berpikir kayaknya-saya-salah-jurusan-deh. bagi seorang mahasiswa yang selama SMP dan SMA selalu berada di ruang kelas yang satu kelas cewek semua, hal ini sangat baru bagi saya. tapi ini harus saya jalani. dari segi materi, di teknik sipil kamu tidak akan pernah b...

Mitos Mitos Tentang Teknik Sipil

salah satu mahasiswa teknik sipil yang lagi praktikum ukur tanah kembali lagi tentang teknik sipil, terima kasih kepada sumber lalu lintas yang menerangkan bahwa semakin banyak yang kepo tentang teknik sipil. juga kepo tentang saya :D tapi ada hal yang membuat saya tergerak untuk menulis tulisan ini, karena mayoritas kata kunci yang dimasukkan tentang teknik sipil adalah tentang mitos mitos teknik sipil yang masih belum ada yang mengulasnya. okeh, dibawah ini adalah mitos terumum di dunia teknik sipil.

Rasanya Jadi Anak Kembar itu...

Rifa-Rusma Dek Fuad-Rusma-Rifa Rusma-Mom-Rifa Rifa-Rusma Rifa-Dad-Rusma Rifa-Rusma-Mom Menjadi anak kembar identik adalah takdir yang harus saya jalani, bahkan sebelum saya melihat dunia. ya, saya bersama dengan Rusma Fatimah Ma'rifah Akhsan mulai dari berbagi rahim  sampai sekarang.