Skip to main content

Tentang Jarak, Suatu Kali..

ketika berbicara tentang jarak dan hubungan dua orang umat manusia, yang satu anak adam, dan satunya anak hawa, banyak orang langsung mengkaitkan dengan LDR (Long Distance Relationship) hubungan jarak jauh.

padahal jarak tidak sesempit tentang LDR


satu kelas pada jam kuliah tapi tetap memutuskan untuk fokus pada perkuliahan, itu juga jarak.

satu kantor pada divisi yang sama tetapi memutuskan untuk tetap professional, itu juga jarak.

saya sering bertanya - tanya, kenapa harus ada jarak pada sebuah hubungan. bukankah hubungan adalah tentang menutup jarak ?

dengan ke-lebay-an tingkat insecure para pejuang LDR di twitter semakin membuat saya membenci jarak, yah sebenci saya dengan hujan. jarak hanya bisa memberikan kesedihan dan keperihan, apa yang bisa diberikan oleh jarak selain sedikit pertemuan yang kemudian ditutup dengan drama perpisahan ? begitu pikir saya.

jarak, selalu sukses menyelipkan mood buruk pada saya bahkan hanya dengan menyinggungnya dalam konteks sederhana.

kemudian saya terlibat dalam hubungan super absurd : dekat tak tersentuh, jauh tak berjarak.

kembali tentang jarak, namun kali ini pola pikir saya dipaksa untuk membalik paradigma tentang jarak, lagi lagi tentang jarak.

dengan berjalannya waktu, lambat laun saya disadarkan semesta bahwa jarak berperan penting dalam menguji keyakinan, juga kesetiaan.

ada banyak hal yang bisa dilihat secara lebih jernih ketika kita memiliki jarak, minimal tentang melihat sesuatu tanpa melibatkan emosi.

jarak mengenalkan saya tentang siapa orang-orang yang benar-benar saya inginkan dalam hidup, siapa yang saya tidak bisa hidup tanpanya, dan siapa yang ada dan tiada nya sama sekali tidak berarti.

jarak mengenalkan saya tentang arti dari sebuah konsistensi atas komitmen apapun yang saya buat.

dan jarak, sudah memberikan kado terindah pada saya tentang siapa yang pantas untuk diajak berjuang, dan untuk siapa seharusnya hati ini berlabuh.

jarak, adalah tentang cara tuhan menjaga saya, kamu, dan kita.




Surabaya, 13 September 2014



Rifa Akhsan

Comments

Popular posts from this blog

Mitos Mitos Tentang Teknik Sipil

salah satu mahasiswa teknik sipil yang lagi praktikum ukur tanah kembali lagi tentang teknik sipil, terima kasih kepada sumber lalu lintas yang menerangkan bahwa semakin banyak yang kepo tentang teknik sipil. juga kepo tentang saya :D tapi ada hal yang membuat saya tergerak untuk menulis tulisan ini, karena mayoritas kata kunci yang dimasukkan tentang teknik sipil adalah tentang mitos mitos teknik sipil yang masih belum ada yang mengulasnya. okeh, dibawah ini adalah mitos terumum di dunia teknik sipil.

Rasanya Kuliah di Teknik Sipil Itu..

Rasanya Kuliah di Teknik Sipil itu.. FUN :) yah berkuliah di jurusan yang menangani realisasi dari perencanaan pembangunan. simple nya jurusan yang menghitung kemungkinan bisa tidaknya sebuah rencana bangunan dibangun, atau lebih gampangnya lagi adalah jurusan tukang. adalah jurusan yang 90% peminatnya adalah cowok. dan saya adalah bagian dari jurusan ini. kalian bisa bayangkan, kelas saya. kelas H teknik sipil berjumlah 45 mahasiswa dengan komposisi mahasiswa cowok 43 orang dan mahasiswa cewek 3 orang (termasuk saya). kalau kelas kita dicampur, maksimal cewek dalam satu kelas adalah 9 orang. itu sudah paling banyak. keadaan seperti itu, setiap hari senin-jum'at.  di awal awal masa perkuliahan membuat saya berpikir kayaknya-saya-salah-jurusan-deh. bagi seorang mahasiswa yang selama SMP dan SMA selalu berada di ruang kelas yang satu kelas cewek semua, hal ini sangat baru bagi saya. tapi ini harus saya jalani. dari segi materi, di teknik sipil kamu tidak akan pernah b...

Rasanya Jadi Anak Kembar itu...

Rifa-Rusma Dek Fuad-Rusma-Rifa Rusma-Mom-Rifa Rifa-Rusma Rifa-Dad-Rusma Rifa-Rusma-Mom Menjadi anak kembar identik adalah takdir yang harus saya jalani, bahkan sebelum saya melihat dunia. ya, saya bersama dengan Rusma Fatimah Ma'rifah Akhsan mulai dari berbagi rahim  sampai sekarang.