Skip to main content

Jalan Jalan : Muara Badak


saya nggak ngerti apakah tepat menyebut ini sebagai jalan jalan. karena sejatinya disana saya tuh kerja, alias survey. survey apa mbak ? survey pasang surut air laut sebagai salah satu rangkaian dari perencanaan mitigasi banjir di DAS Mahakam.

seperti itu. 

tapi gapapa lah ya waktu 48 jam saya rasa cukup untuk menggambarkan seperti apa Muara Badak itu.

asyik, namanya jadi Muara Badak di mata saya.


jadi Muara Badak ini merupakan sebuah kecamatan kaya raya di pesisir Kabupaten Kutai Kartanegara. sebuah kecamatan yang memiliki sumber daya minyak, gas alam, serta batu bara. pokoknya kaya raya banget lah sampai sampai di kantor desa nya ada kantor dinas Sumber Daya Alam regional. 

selain kekayaan perut bumi, daerah ini juga teramat subur dengan lahan ekonomi pertanian, perikanan, dan pariwisatanya. letaknya yang berada di pesisir jalur pelayaran internasional juga memungkinkan penduduknya untuk mencari nafkah bukan sekedar nelayan.

ehem, ini yang menarik.


lokasi survey saya kebetulan dekat perkampungan penduduk. ya di dermaga rakyat gitu lah. sehingga membuat saya cukup bisa bersentuhan dengan denyut nadi masyarakat biasa (kayak saya). 

bagi masyarakat yang berbeda orbit dengan dunia korporasi. di daerah ini wajib hukumnya punya kapal. jika mata pencaharian mereka bukan seorang petani atau petambak. kenapa ? karena selain untuk mencari ikan, kapal ini juga bisa menjadi media untuk memberikan "jasa" transportasi wisata memancing bagi mereka yang stress ngantor di oil, gas, and coal company itu.

yang menarik perhatian saya, kapal kapal ini juga menjadi alat untuk menunjang profesi masyarakat sebagai "supplier". 

hah ? supplier apa mbak ? mereka ikutan pengadaan barang jasa ?



ya enggak lah maemunah. mereka ini menjadi supplier bagi kapal kapal yang lempar jangkar di laut Muara Badak. kapal - kapal pengangkut kontainer dan minyak inilah yang dipenuhi kebutuhannya. mereka kan di sana butuh makan, kartu internet, cemilan, buah - buahan, hingga jasa haram yang lebih baik nggak usah saya ceritakan disini.

jadi masyarakat inilah yang pergi ke darat, ke pasar untuk memenuhi kebutuhan para awak kabin kapal - kapal berbendera asing ini. sebagai imbalan mereka dibayar dengan dollar atau mata uang negara asal si kapal. tapi dari cerita mereka umumnya mereka dibayar dengan US Dollar. kalau tidak dibayar dengan US Dollar mereka dibayar dengan bensin/solar kualitas tinggi. jadi nggak heran di kecamatan ini mudah sekali ditemukan pertamini modifikasi.

ngomong - ngomong masalah dollar, saya cukup salut dengan pemerintah daerahnya yang hanya mengizinkan bank rakyat saja sebagai tempat masyarakat menukarkan valuta asing milik mereka.


saya melihat kesyukuran di hidup mereka. mereka nggak pusing soal inflasi apalagi investasi. wong bayarannya valas kok. dengan kapal kayu bermotor sebagai modal hidup. sedihnya, taraf hidup mereka tidak meningkat. karena mendapatkan uang begitu mudah. asal rajin jadi supplier dan menjaga hubungan baik dengan para awak kabin. membeli aset simbolis seperti mobil dan rumah bukan barang mahal. pendidikan jadi serasa nggak penting karena di laut mereka cari rezeki.

  
profesi supplier ini menjadi fokus ke kepoan saya di tengah kebosanan mengukur tinggi muka air laut per sepuluh menit selama puluhan jam. ini profesi baru buat mbak - mbak korporat macam saya. bahwa dunia nggak hanya berkutat tentang saya, laporan - laporan di ruangan saya, dan masalah hidup saya.

itulah menariknya perjalanan. mata saya terbuka dengan berbagai unexpected joy.


fyi di terpal biru itulah tempat saya nongki demi mendapatkan data. jangan tanya saya gimana panasnya kalau pas tengah hari. 

trus di seberang itu ? yang hijau pohon - pohon itu ? bersarang buaya muara bermata kuning. saya cukup bergidik dengan cerita nelayan yang katanya dikejar buaya karena kurang rapi mengemas ikan di kapalnya.

jadi, kata siapa perempuan sebaiknya di rumah aja. dandan cantik untuk suami ?

eh kok nge gas.


kontur tanah yang rata, menjadikan daerah ini memesona dengan pohon - pohon kelapanya. foto di atas adalah salah satu halaman rumah warga. cantik ya ? rumput - rumput rapi nan terawat menjadi pemandangan umum di daerah ini. katanya sih, rumput ini dijual per petak dengan ukuran tertentu. saya sih belum nanya, wong proyek resort saya top soil dan pengupasan lahannya aja belum kelar. 

yakali saya ngetok rumah orang cuma buat nanya harga. 

eh tapi saya bisa sih minta tolong sama rekanan saya yang tinggal di daerah ini buat urusan rerumputan ini. katanya kalau sama penduduk sana lebih murah.

cuan is my life.


pemandangan pesisir pantai di sebelah kanan dan rumah - rumah berhalaman cantik di sebelah kiri menjadi bonus perjalanan bisnis saya di Muara Badak. (ya ampun perjalanan bisnis banget nih bahasanya ? orang tuh business trip identik dengan rapat di pencakar langit. lah saya nongki di dermaga rakyat ?) 


menyusuri jalan poros Muara Badak - Marangkayu - Bontang membuat saya teringat perjalanan dari Uluwatu ke Denpasar. berbagai papan spanduk bertuliskan nama - nama pantai menjadi bagian dari memori saya pada perjalanan ini. ya, meskipun Pantai Mutiara dan Pantai Pengempang lah yang menjadi primadona. tapi menikmati pantai pantai lain yang tidak seramai kedua pantai itu juga oke banget buat pilihan jalan - jalan di Muara Badak.


selain pantai, Marangkayu - Muara Badak juga menyimpan lahan persawahan yang tidak kalah cantik dengan pantainya. saya terkagum dengan hamparan luas padi dengan pohon kelapa sebagai pagarnya. surga zamrud khatulistiwa itu nyata.


lokasi persawahan ini juga access-able kok berada di pinggir jalan utama yang berupa perkerasan beton. tapi tetap perhatikan musim ya. karena tidak selalu pemandangan sehijau ini. ya kalau musim panen pemandangannya adalah padi yang menguning.

ya nggak ?


banyak yang menduga sawah - sawah ini merupakan sawah tadah hujan. nggak kok, padi nya bukan padi gogo dan bukan sawah tadah hujan. mereka punya sistem irigasi standar bangunan sipil. ada beberapa spill way juga untuk saluran aliran primer nya. sehingga irigasi ini tidak hanya bermanfaat bagi petani padi namun juga bisa dimanfaatkan petani tambak.


kalau kamu mau melakukan perjalanan Samarinda - Bontang dan menginginkan pemandangan hijau begini kamu bisa ambil jalur Bontang via kantor walikota Sekambing - motong jalan tambang PT Indominco Mandiri dan masuk lewat desa Santan Ilir. atau kalau dari arah simpang Sangatta bisa lewat kilo 23 desa Santan Ulu (kalau lewat sini kamu juga dapat bonus pemandangan ladang pertanian) yang nantinya akan tembus ke desa Santan Ilir juga. bisa juga setelah Gunung Menangis masuk lewat simpang tiga Marang Kayu. jalan manapun yang kamu tempuh nantinya juga akan berakhir di jalan poros pesisir laut Marang Kayu - Muara Badak. jalan ini akan keluar di simpang tiga Muara Badak - Sambera. dekat dengan Bandara APT Pranoto Samarinda.  


jadi, begitulah perjalanan saya di Muara Badak. yang meskipun pulang dari sana saya nggak bisa leha - leha bangun siang karena harus segera mengolah data dan bikin laporan. tapi saya bahagia.

karena bukankah tujuan travelling adalah untuk refresh, recharge, and feels like reinvented ? 





Bontang, 22 April 2019




Riffat Akhsan, yang lagi dikejar termin invoice.

Comments

Popular posts from this blog

Hong Kong Day 3: Mengagumi Hong Kong Secara Pelan-Pelan

Halo, terima kasih untuk kamu yang kembali ke sini. kisah tentang Hong Kong sengaja saya ceritakan per hari, agar saya juga mengingat dengan syukur bahwa doa saya terkabul. bahwa mimpi saya terwujud. cuaca saat itu bagus (tidak terjadi thypoon). udara juga cocok untuk saya (pertengahan musim semi). dan semoga, kamu juga bisa meginjakkan kaki ke Hong Kong. Hari Ketiga di Hong Kong adalah harinya slow down. karena saya harus mengatur energi saya dengan baik. hari pertama dan kedua udah dar der dor banget. hari ketiga saya usahakan pace nya lebih lambat. di hari ketiga ini pula saya hanya jalan-jalan berdua dengan Fatimah. karena, Annisa ke Disneyland. KFC Wan Chai dan Jalan Masuk Menuju Wan Chai Market perjalanan kami mulai dari KFC Wan Chai sebagai tujuan sarapan. KFC ini adalah cabang KFC halal terdekat dari apartment, lokasinya persis di depan tram station. ternyata, menu yang ready saat itu baru menu - menu light meal ala KFC seperti sup krim dan omelette. sementara saya dan Fatimah ...

Rasanya Kuliah di Teknik Sipil Itu..

Rasanya Kuliah di Teknik Sipil itu.. FUN :) yah berkuliah di jurusan yang menangani realisasi dari perencanaan pembangunan. simple nya jurusan yang menghitung kemungkinan bisa tidaknya sebuah rencana bangunan dibangun, atau lebih gampangnya lagi adalah jurusan tukang. adalah jurusan yang 90% peminatnya adalah cowok. dan saya adalah bagian dari jurusan ini. kalian bisa bayangkan, kelas saya. kelas H teknik sipil berjumlah 45 mahasiswa dengan komposisi mahasiswa cowok 43 orang dan mahasiswa cewek 3 orang (termasuk saya). kalau kelas kita dicampur, maksimal cewek dalam satu kelas adalah 9 orang. itu sudah paling banyak. keadaan seperti itu, setiap hari senin-jum'at.  di awal awal masa perkuliahan membuat saya berpikir kayaknya-saya-salah-jurusan-deh. bagi seorang mahasiswa yang selama SMP dan SMA selalu berada di ruang kelas yang satu kelas cewek semua, hal ini sangat baru bagi saya. tapi ini harus saya jalani. dari segi materi, di teknik sipil kamu tidak akan pernah b...

Beryl’s Jalan Panggong Outlet - Kuala Lumpur

  "Riffat, ayo makan buah cokelat"  waktu itu dia petik buah kakao itu, dibukanya, dan disodorkan ke saya "buah cokelat" versi dia.  buah cokelat yang dalam kenyataannya adalah biji kakao. saya masih ingat, rasanya manis dan ada hint pahit. teksturnya seperti buah sirsak versi lebih padat.   rasanya itu adalah awal mula ketertarikan saya dengan cokelat. tetangga saya yang punya pohon kakao di rumahnya.  setelah pengalaman memakan biji kakao mentah itu, perjalanan saya dengan cokelat tidak jauh - jauh dari merek Silverqueen dan Toblerone. trus waktu abah saya pulang dari luar negeri, saya baru tau ada merek cokelat bernama Cadburry. sisanya, ya cokelat ayam murah yang lengket di lidah. lalu, suatu hari saya berkesempatan mengunjungi outlet cokelat ini di Kuala Lumpur. ini bukan sekedar outlet, dia punya costumer experience style yang memberikan transfer knowledge tentang proses bean to bar mulai dari biji kakao sampai ke bentuk akhir cokelat siap makan. mung...