Skip to main content

Posts

Showing posts with the label sawah

Suatu Hari di Duduk Sampeyan

"yang, besok ke rumah ya. disuruh ibu kesini, ada pengajian abah habis isya. tapi kamu habis ashar aja kesininya, ntar kalo kesorean nggak bisa parkir" adalah pesan singkat dari pasangan saya (untuk selanjutnya kita sebut yayang) yang masuk di tengah rapat konten yang melelahkan. yes lumayan, ada alasan keluar kota. saya selalu suka ke rumah yayang, karena energi dan suasananya yang mengingatkan saya dengan kampung halaman abah saya nun jauh di hulu sungai kalimantan sana. masih dalam area hinterland Surabaya, daerah rumah yayang yang masuk kabupaten Gresik ini begitu, apa ya.... "permai". mungkin hanya perlu tiga puluh menit dari pusat Surabaya ke rumah yayang, tapi sensasi ketenangan yang saya dapatkan melebihi jauh jauh ke Malang hanya untuk sepetak sawah terasering. tapi Gresik panas sih :(( deretan sawah membentang sampai kaki langit, tambak seluas danau, jalan aspal selebar dua meter, rawa dan rumah rumah berhalaman luas menjadi pemandangan ...

Hallo Malang :)

surabaya masih gelap, kumandang adzan mengiringi keberangkatan saya dari Surabaya menuju malang. "mari mbak" sapa security perumahan saya dengan wajah ngantuk, maklum sudah semalaman beliau begadang menjaga keamanan perumahan saya dan sebentar lagi shiftnya selesai. dingin, sepi, namun tidak mencekam adalah keadaan yang menemani saya selama perjalanan. saya ke malang untuk bahagia, untuk bersyukur, dan untuk belajar bagaimana tuhan sudah begitu baik pada saya. bahagia rasanya bisa keluar dari hal hal yang menyesakkan, kalau kata paman guru. jangan biarkan gelembung masalah mengurungmu, tapi upayakan untuk masalah bisa berada di bawah kendalimu. dan disinilah saya, sebuah kabupaten yang berada di daerah pegunungan. pagi saya langsung blusukan ke kampung kampung, ngapain ? cari sawah ! karena saya suka filosofi sawah. sawah selalu bisa menyesuaikan diri dengan musim, selalu bisa berdamai dengan keadaan, baik keadaan tanah, air, pupuk, bibit maupun petani. sawah de...

Kerinduan Itu Bernama Kalimantan

Minggu dini hari, saya terbangun ketika jarum jam berada pada angka dua, setelah sebelumnya baru bisa memejam tengah malam. praktis hanya dua jam saya memejam, kegelisahan karena tingginya suhu tubuh ditambah mata yang masih mengantuk memaksa saya untuk mandi kemudian packing dengan kesadaran yang masih separo. tapi dalam hati saya sudah ikhlas kalau kalau banyak baju saya yang ketinggalan. saya meninggalkan Surabaya pada penerbangan pertama, bahkan matahari belum  menampakkan wujudnya ketika saya mengudara. dari ketinggian sekian ribu kaki dari permukaan laut, Surabaya terlihat kecil dan bersinar keemasan ditimpa matahari fajar, ada hangat tersendiri mengingat apa yang Surabaya telah berikan pada saya.