Skip to main content

Kerinduan Itu Bernama Kalimantan


Minggu dini hari, saya terbangun ketika jarum jam berada pada angka dua, setelah sebelumnya baru bisa memejam tengah malam. praktis hanya dua jam saya memejam, kegelisahan karena tingginya suhu tubuh ditambah mata yang masih mengantuk memaksa saya untuk mandi kemudian packing dengan kesadaran yang masih separo. tapi dalam hati saya sudah ikhlas kalau kalau banyak baju saya yang ketinggalan.

saya meninggalkan Surabaya pada penerbangan pertama, bahkan matahari belum  menampakkan wujudnya ketika saya mengudara. dari ketinggian sekian ribu kaki dari permukaan laut, Surabaya terlihat kecil dan bersinar keemasan ditimpa matahari fajar, ada hangat tersendiri mengingat apa yang Surabaya telah berikan pada saya.



saya terbangun setelah dibangunkan dengan halus oleh pramugari dan diberitahu bahwa pesawat akan segera mendarat di Balikpapan. dari jendela terlihat biru laut kalimantan dengan kapal kapal pengangkut batubara yang berseliweran.

pesawat milik maskapai penerbangan berplat merah yang saya tumpangi mendarat dengan mulus di Bandara Internasional Aji Muhammad Sulaiman, bandara internasional dengan atap baja mata dewa dan garbarata nya hasil rancangan rekanan saya yang ganteng, Fega. dan pembesian kolom dan plat nya adalah tanggung jawab tenaga ahli nya kebetulan dosen saya membuat bandara ini terasa dekat unsur konstruksinya dengan saya.

ayah saya yang merangkap presiden direktur kantor saya terlihat menunggu saya tidak jauh dari pintu keluar, beliau lalu menghampiri saya dan saya langsung mencium tangan beliau. ah betapa saya merindukan superioritas dalam balutan kasih sayang beliau.

dalam perjalanan ke Bontang, kami memilih untuk pulang lewat Muara Badak. sebuah kecamatan kaya minyak yang kontur tanahnya datar karena berada di pinggir laut, abah lalu meminta supir kami untuk mampir di pantai pinggir jalan di tengah perjalanan kami. saya baru sadar betapa saya merindukan pantai dengan laut biru berpasir tepung.



tidak jauh dari pantai, saya melihat sekawanan kambing yang asyik merumput. kalimantan masih sanggup memberi makan tanggungannya meskipun batubara, minyak, dan gas alamnya terus dikeruk tanpa ampun demi memenuhi lumbung devisa nasional juga memenuhi gaya hidup para pembesarnya di ibukota sana.

perjalanan kami berlanjut, mentari mulai memberikan persembahan terbaiknya berupa twilight, mobil kami melalui daerah persawahan, kalimantan masih subur untuk bertani disaat gencarnya para pengembang dengan konsep modern menciptakan kota baru di bumi etam ini.


adzan maghrib berkumandang seiring dengan tenggelamnya sang mentari. kalimantan menitipkan salam hangatnya pada saya kepada kamu, para pembaca blog ini.


hari itu, kalimantan menyambut kedatangan saya seraya memeluk saya dengan segenap cinta, meski ia tahu cinta saya tertinggal di Surabaya :) 



Kubikel Kantor PT Borneo Sentra Teknik Consultant,
Bontang,  7 Juli 2015





Rifa Akhsan




                                                          

Comments

  1. Halooo, Kak Riffat! Obati kerinduan Kalimantan dengan ikutan Lomba Blog "Terios 7 Wonders, Borneo Wild Adventure".

    Tiga blogger terbaik akan diajak menjelajah Kalimantan dan berkesempatan mendapatkan grand prize, Macbook Pro.
    Info selengkapnya: http://log.viva.co.id/terios7wonders2015

    Jangan sampai ketinggalan ya, Kak Riffat!

    ReplyDelete
  2. Kerinduan yg sama yg tengah sy rasakan

    ReplyDelete
    Replies
    1. amiin, semoga rindu ibu segera menemui muaranya

      Delete

Post a Comment

pembaca yang baik, terima kasih telah berkunjung ke sini. silahkan meninggalkan kritik, saran, pesan, kesan, dan apresiasi untuk saya menulis lebih baik lagi. terima kasih pula untuk tidak nge-Spam di Blog Saya :)



Popular posts from this blog

Hong Kong Day 3: Mengagumi Hong Kong Secara Pelan-Pelan

Halo, terima kasih untuk kamu yang kembali ke sini. kisah tentang Hong Kong sengaja saya ceritakan per hari, agar saya juga mengingat dengan syukur bahwa doa saya terkabul. bahwa mimpi saya terwujud. cuaca saat itu bagus (tidak terjadi thypoon). udara juga cocok untuk saya (pertengahan musim semi). dan semoga, kamu juga bisa meginjakkan kaki ke Hong Kong. Hari Ketiga di Hong Kong adalah harinya slow down. karena saya harus mengatur energi saya dengan baik. hari pertama dan kedua udah dar der dor banget. hari ketiga saya usahakan pace nya lebih lambat. di hari ketiga ini pula saya hanya jalan-jalan berdua dengan Fatimah. karena, Annisa ke Disneyland. KFC Wan Chai dan Jalan Masuk Menuju Wan Chai Market perjalanan kami mulai dari KFC Wan Chai sebagai tujuan sarapan. KFC ini adalah cabang KFC halal terdekat dari apartment, lokasinya persis di depan tram station. ternyata, menu yang ready saat itu baru menu - menu light meal ala KFC seperti sup krim dan omelette. sementara saya dan Fatimah ...

Rasanya Kuliah di Teknik Sipil Itu..

Rasanya Kuliah di Teknik Sipil itu.. FUN :) yah berkuliah di jurusan yang menangani realisasi dari perencanaan pembangunan. simple nya jurusan yang menghitung kemungkinan bisa tidaknya sebuah rencana bangunan dibangun, atau lebih gampangnya lagi adalah jurusan tukang. adalah jurusan yang 90% peminatnya adalah cowok. dan saya adalah bagian dari jurusan ini. kalian bisa bayangkan, kelas saya. kelas H teknik sipil berjumlah 45 mahasiswa dengan komposisi mahasiswa cowok 43 orang dan mahasiswa cewek 3 orang (termasuk saya). kalau kelas kita dicampur, maksimal cewek dalam satu kelas adalah 9 orang. itu sudah paling banyak. keadaan seperti itu, setiap hari senin-jum'at.  di awal awal masa perkuliahan membuat saya berpikir kayaknya-saya-salah-jurusan-deh. bagi seorang mahasiswa yang selama SMP dan SMA selalu berada di ruang kelas yang satu kelas cewek semua, hal ini sangat baru bagi saya. tapi ini harus saya jalani. dari segi materi, di teknik sipil kamu tidak akan pernah b...

Beryl’s Jalan Panggong Outlet - Kuala Lumpur

  "Riffat, ayo makan buah cokelat"  waktu itu dia petik buah kakao itu, dibukanya, dan disodorkan ke saya "buah cokelat" versi dia.  buah cokelat yang dalam kenyataannya adalah biji kakao. saya masih ingat, rasanya manis dan ada hint pahit. teksturnya seperti buah sirsak versi lebih padat.   rasanya itu adalah awal mula ketertarikan saya dengan cokelat. tetangga saya yang punya pohon kakao di rumahnya.  setelah pengalaman memakan biji kakao mentah itu, perjalanan saya dengan cokelat tidak jauh - jauh dari merek Silverqueen dan Toblerone. trus waktu abah saya pulang dari luar negeri, saya baru tau ada merek cokelat bernama Cadburry. sisanya, ya cokelat ayam murah yang lengket di lidah. lalu, suatu hari saya berkesempatan mengunjungi outlet cokelat ini di Kuala Lumpur. ini bukan sekedar outlet, dia punya costumer experience style yang memberikan transfer knowledge tentang proses bean to bar mulai dari biji kakao sampai ke bentuk akhir cokelat siap makan. mung...