Skip to main content

Ukhti, Saya Nggak Suka Sama Model Jilbab (yang dapat sertifikat) Halal Itu, Trus Gimana Dong ?


baru baru ini para ukhti dengan jilbab syar'i yang kalau jalan ke masjid kampus jibabnya berkibar ketika tertiup angin mengalahkan kibar bendera negeri ini mulai geger dengan adanya fenomena jilbab halal dimana gelatin yang terkandung dalam jilbab tersebut berasal dari tumbuhan, bukan dari gelatin babi.

banner besar dengan strong point kontennya adalah tanda tanya disertai tulisan "YAKIN HIJAB YANG KITA GUNAKAN HALAL ?" mulai muncul di sudut sudut jalan Surabaya, utamanya di perempatan lampu merah kalau saya mau berangkat ke kampus.

awalnya cuek, tapi lama lama gemes juga dengan banyaknya promo yang nangkring di sosial media baik emang adsense maupun testimoni personal yang mendukung kehalalan jilbab yang nggak bisa dimakan ini.

masalahnya saya nggak suka sama model jilbab halal ini (plis bedakan jilbab dan hijab, kalau nggak paham boleh tanya sama guru agama, bukan googling). model jilbab halal ini nggak cocok sama style saya yang masih nyaman nyaman saja berjilbab sebatas leher (atas dasar kerapian di kantor saya).

masalah yang lebih besar lagi, saya naksir Christian Dior Abayas yang cuma dijual di Dubai dan nggak ada diskon itu *elap aer mata pake jilbab halal*

serumit inikah menjadi akhwat kekinian ?

saya jadi berpikir, di jaman Rasul S.A.W. dulu apakah syaidati Aisyah, Khadijah, Fatimah (putri rasul), dan para istri khulafaur rasyidin sempat cek ke laboratorium untuk mengecek apakah gelatin dari kain hijab mereka merupakan gelatin babi atau tumbuhan sebelum memutuskan untuk memakainya ?

apakah lebih baik tidak berjilbab ketimbang berjilbab tapi jilbabnya mengandung gelatin babi ?

guru spiritual saya pernah bilang "tirulah teladan rasulullah semampumu"

Rasul tidak pernah memaksa jilbab kamu harus halal atau tidak, berhati hati boleh, tapi kalau menjadikan halal haram MUI sebagai salah satu teknik marketing kok ya kayaknya ada yang harus dibenerin otaknya disini.

mama saya yang dosen psikologi agama pernah bilang : beragama itu sistem keyakinan, jadilah insan beragama yang aul dan pluralis, bukan ala ala teroris.

saya hanya ingin menjadi muslimah yang jadul kekinian, mempertahankan hal baik di masa lalu, mengambil hal yang lebih baik di masa kini. saya merasa mampu saya berjilbab baru seperti ini : rapi, sopan, sebatas leher, dan (mungkin kain) jilbab saya mengandung gelatin babi.

karena saya mau dengan saya berjilbab saya jadi terhormat, bukan jadi bahan cibiran atau tertawaan.

sekian dulu opini saya tentang jilbab halal *kibas jilbab paris sepuluh ribuan*






Surabaya, 9 Februari 2016




Riffat Akhsan

Comments

  1. Strategi marketing yang tak bijak, menurutku, mba :). Salam kenal

    ReplyDelete
  2. pasti konsumen sekarang sudah pada smart dan bijak dalam memilih produk mbak, slm hangat dari Kudus. Salam sukses selalu ya mbak

    ReplyDelete
  3. Jilbab halal itu nganu banget ya mbak. Tapi boleh jadi jilbab halal bisa jadi langkah pertama untuk dihalalin. Ya atau mungkin biar bisa bikin Hari Jilbab Halal Nasional, siapa tahu, kan? :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya sih nggak nunggu pake jilbab halal mas kalau mau dihalalin. masalahnya yang ngehalalin agamanya belom halal :(((

      Delete
  4. Sebenernya sih dengan sertifikat halal ini kita konsumen jadi lebih aman mbak, cuman sepertinya strategi marketingnya jd terlalu berlebihan shg muncul stigma bahwa jilbab lain tidak halal. Saya jg pernah menulis ttg ini, boleh dicek, terima kasih :)http://m.kompasiana.com/shaulasafira/jilbab-halal-perlukah_56bed85df096735005c8edc6

    ReplyDelete

Post a Comment

pembaca yang baik, terima kasih telah berkunjung ke sini. silahkan meninggalkan kritik, saran, pesan, kesan, dan apresiasi untuk saya menulis lebih baik lagi. terima kasih pula untuk tidak nge-Spam di Blog Saya :)



Popular posts from this blog

Hong Kong Day 3: Mengagumi Hong Kong Secara Pelan-Pelan

Halo, terima kasih untuk kamu yang kembali ke sini. kisah tentang Hong Kong sengaja saya ceritakan per hari, agar saya juga mengingat dengan syukur bahwa doa saya terkabul. bahwa mimpi saya terwujud. cuaca saat itu bagus (tidak terjadi thypoon). udara juga cocok untuk saya (pertengahan musim semi). dan semoga, kamu juga bisa meginjakkan kaki ke Hong Kong. Hari Ketiga di Hong Kong adalah harinya slow down. karena saya harus mengatur energi saya dengan baik. hari pertama dan kedua udah dar der dor banget. hari ketiga saya usahakan pace nya lebih lambat. di hari ketiga ini pula saya hanya jalan-jalan berdua dengan Fatimah. karena, Annisa ke Disneyland. KFC Wan Chai dan Jalan Masuk Menuju Wan Chai Market perjalanan kami mulai dari KFC Wan Chai sebagai tujuan sarapan. KFC ini adalah cabang KFC halal terdekat dari apartment, lokasinya persis di depan tram station. ternyata, menu yang ready saat itu baru menu - menu light meal ala KFC seperti sup krim dan omelette. sementara saya dan Fatimah ...

Rasanya Kuliah di Teknik Sipil Itu..

Rasanya Kuliah di Teknik Sipil itu.. FUN :) yah berkuliah di jurusan yang menangani realisasi dari perencanaan pembangunan. simple nya jurusan yang menghitung kemungkinan bisa tidaknya sebuah rencana bangunan dibangun, atau lebih gampangnya lagi adalah jurusan tukang. adalah jurusan yang 90% peminatnya adalah cowok. dan saya adalah bagian dari jurusan ini. kalian bisa bayangkan, kelas saya. kelas H teknik sipil berjumlah 45 mahasiswa dengan komposisi mahasiswa cowok 43 orang dan mahasiswa cewek 3 orang (termasuk saya). kalau kelas kita dicampur, maksimal cewek dalam satu kelas adalah 9 orang. itu sudah paling banyak. keadaan seperti itu, setiap hari senin-jum'at.  di awal awal masa perkuliahan membuat saya berpikir kayaknya-saya-salah-jurusan-deh. bagi seorang mahasiswa yang selama SMP dan SMA selalu berada di ruang kelas yang satu kelas cewek semua, hal ini sangat baru bagi saya. tapi ini harus saya jalani. dari segi materi, di teknik sipil kamu tidak akan pernah b...

Beryl’s Jalan Panggong Outlet - Kuala Lumpur

  "Riffat, ayo makan buah cokelat"  waktu itu dia petik buah kakao itu, dibukanya, dan disodorkan ke saya "buah cokelat" versi dia.  buah cokelat yang dalam kenyataannya adalah biji kakao. saya masih ingat, rasanya manis dan ada hint pahit. teksturnya seperti buah sirsak versi lebih padat.   rasanya itu adalah awal mula ketertarikan saya dengan cokelat. tetangga saya yang punya pohon kakao di rumahnya.  setelah pengalaman memakan biji kakao mentah itu, perjalanan saya dengan cokelat tidak jauh - jauh dari merek Silverqueen dan Toblerone. trus waktu abah saya pulang dari luar negeri, saya baru tau ada merek cokelat bernama Cadburry. sisanya, ya cokelat ayam murah yang lengket di lidah. lalu, suatu hari saya berkesempatan mengunjungi outlet cokelat ini di Kuala Lumpur. ini bukan sekedar outlet, dia punya costumer experience style yang memberikan transfer knowledge tentang proses bean to bar mulai dari biji kakao sampai ke bentuk akhir cokelat siap makan. mung...