Skip to main content

Mencari Kedamaian di Damai Bahari

ini adalah cerita mbak - mbak kantoran yang gabut di Jum'at sore.

saya ini kan andalan nya adalah laut Balikpapan. ke pasar maunya yang dekat laut : Klandasan, Balikpapan Permai, atau Sepinggan. Mall : kalau bukan Balikpapan Plaza ya Penta City.

sore itu, seperti jum'at yang lain. kantor saya pulang cepat sehingga saya masih bisa melihat matahari sore. 

namanya juga baru ya di Balikpapan, dengan percaya diri berpikir kalau pasar Balikpapan Permai itu kayak Pasar Klandasan. belakangnya laut. makanya saya semangat menyusuri gang - gang di pasar itu dengan harapan akan bertemu laut.

namun ternyata, perjalanan saya bermuara di sungai. bukan di laut. awalnya saya kaget dan exciting menemukan rumah - rumah kayu lama dengan halaman luas gang yang hanya bisa dilewati sepeda motor itu.

tapi kemudian saya sadar, ini adalah perkampungan nelayan 


di sinilah para nelayan itu hidup sejak lama. bekerja mencari ikan untuk di jual di pasar Balikpapan permai.


beberapa yang lain, yang pintar memutar modal membangun sebuah kost untuk mereka yang bekerja di seberang sungai.

mereka di sini adalah para penjaga loket parkir, petugas keamanan, dan petugas kebersihan. mereka berangkat kerja pukul 10 pagi dan pulang 12 jam kemudian. berjalan kaki, membawa bekal sendiri dan berjuang mengumpulkan pundi rupiah.


saya sempat bertanya apakah kapal - kapal ini memiliki paket wisata mengajak pengunjung menyusuri sungai ? yang dijawab dengan gelengan kepala dan kalimat "mau menyusuri gimana mbak, sungainya sampai sini aja"


iya juga ya...

pikir saya setuju. memang kedua ujung jalan ini buntu yang didukung fakta lebar penampang sungai yang pendek setelah segmen jalan nasional.
 


harus saya akui, sepanjang sungai memang ada beberapa gazebo cantik (dan pasti biaya pembuatannya mahal). namun sejatinya gazebo dibangun sebagai sarana menikmati pemandangan.

lantas bagaimana cara menikmati pemandangan ketimpangan sosial ini ?


sepanjang pengamatan saya, hanya ada satu pedagang yang mencoba mencari peruntungan dari "Objek Wisata" Damai Bahari ini.

namun hitungan bisnis saya tidak masuk jika para pengunjung disini didominasi warga lokal berumur belasan yang hanya ingin memperbanyak postingan instagram saja.

namun tak apa, saya sempat membeli air mineral kemasan di sini dengan harga bersahabat.


mencari kedamaian bukan di Damai Bahari tempatnya. mungkin di Masjid Jabalus Su'ada Bukit Damai Indah kali ya. 

berada di sini menyesakkan hati saya. seakan sungai menjadi jurang perbedaan kasta antara mereka yang di Damai Bahari dengan mereka yang di Balikpapan Superblock.

saya tidak melihat sebuah value added apapun dari Damai Bahari selain sebuah bantaran sungai yang dicor perkerasan rigid dan ketumpahan cat. dengan asumsi kawasan ini diperuntukkan untuk social media moment semata. sebuah kawasan yang sejatinya bisa membawa kedamaian bagi pengunjung alih - alih kepahitan dalam bingkai kemiskinan.



Balikpapan, 2 Juli 2021





Faizah Akhsan -- yang kadang usahanya mencari kedamaian berbuah pelajaran.

Comments

Popular posts from this blog

Mitos Mitos Tentang Teknik Sipil

salah satu mahasiswa teknik sipil yang lagi praktikum ukur tanah kembali lagi tentang teknik sipil, terima kasih kepada sumber lalu lintas yang menerangkan bahwa semakin banyak yang kepo tentang teknik sipil. juga kepo tentang saya :D tapi ada hal yang membuat saya tergerak untuk menulis tulisan ini, karena mayoritas kata kunci yang dimasukkan tentang teknik sipil adalah tentang mitos mitos teknik sipil yang masih belum ada yang mengulasnya. okeh, dibawah ini adalah mitos terumum di dunia teknik sipil.

Rasanya Kuliah di Teknik Sipil Itu..

Rasanya Kuliah di Teknik Sipil itu.. FUN :) yah berkuliah di jurusan yang menangani realisasi dari perencanaan pembangunan. simple nya jurusan yang menghitung kemungkinan bisa tidaknya sebuah rencana bangunan dibangun, atau lebih gampangnya lagi adalah jurusan tukang. adalah jurusan yang 90% peminatnya adalah cowok. dan saya adalah bagian dari jurusan ini. kalian bisa bayangkan, kelas saya. kelas H teknik sipil berjumlah 45 mahasiswa dengan komposisi mahasiswa cowok 43 orang dan mahasiswa cewek 3 orang (termasuk saya). kalau kelas kita dicampur, maksimal cewek dalam satu kelas adalah 9 orang. itu sudah paling banyak. keadaan seperti itu, setiap hari senin-jum'at.  di awal awal masa perkuliahan membuat saya berpikir kayaknya-saya-salah-jurusan-deh. bagi seorang mahasiswa yang selama SMP dan SMA selalu berada di ruang kelas yang satu kelas cewek semua, hal ini sangat baru bagi saya. tapi ini harus saya jalani. dari segi materi, di teknik sipil kamu tidak akan pernah b...

Rasanya Jadi Anak Kembar itu...

Rifa-Rusma Dek Fuad-Rusma-Rifa Rusma-Mom-Rifa Rifa-Rusma Rifa-Dad-Rusma Rifa-Rusma-Mom Menjadi anak kembar identik adalah takdir yang harus saya jalani, bahkan sebelum saya melihat dunia. ya, saya bersama dengan Rusma Fatimah Ma'rifah Akhsan mulai dari berbagi rahim  sampai sekarang.