Skip to main content

Kita Hidup di Negara Opini

Sumber Gambar


beberapa hari yang lalu saya menonton sebuah drama yang cukup membuat saya berpikir. jadi ceritanya di sebuah sekolah ada anak paling pintar, sebut saja si A dan anak paling bodoh sebut saja si B yang berada di kelas yang sama.

suatu kali kelas tersebut mengerjakan ujian yang hasilnya peringkat tertinggi akan dikirim mewakili sekolah tersebut untuk mengikuti olimpiade.

tak disangka, si B mendapatkan nilai 100 (sempurna) sementara si A "hanya" mendapatkan nilai 96.

seisi kelas heboh, banyak spekulasi yang menuding si B berbuat curang, bagaimana bisa seorang paling bodoh memiliki nilai lebih tinggi ketimbang si paling pintar ?

akhirnya wali kelas memutuskan untuk mengirim si A mewakili sekolah untuk ke olimpiade karena tidak percaya bahwa si B mengerjakan ujian dengan jujur.

si B kemudian ditimpa spekulasi bahwa ia berbuat curang, mendapat kunci jawaban, meretas jaringan sekolah demi kunci ujian, dan lain sebagainya. tanpa ada bukti.

si B dipanggil ke ruang guru oleh wali kelas, ditekan untuk mengklarifikasi spekulasi tersebut.

wali kelas : B, kamu harus menandatangani lembar pernyataan permintaan maaf karena berbuat curang, mengakui kesalahanmu, dan mengklarifikasi semua rumor yang beredar di luar sana.

B : kenapa saya harus dipaksa mengakui dan bertanggung jawab untuk kesalahan yang tidak saya lakukan, rumor jelek memang menimpa saya tapi bukan berarti itu adalah kebenaran.

wali kelas : apapun yang terjadi kamu harus tetap bertanggung jawab atas rumor tersebut.

B : kenapa saya harus bertanggung jawab atas rumor yang bahkan saya tidak tau siapa yang menyebarkan.

wali kelas : karena kamu adalah subjek dari rumor.

si B terdiam.

B : pak wali kelas, bapak tau ibu X di seberang sana kan ? sambil menunjuk salah seorang guru perempuan yang kebetulan masih belum menikah  

wali kelas mengangguk

B : keluar dari kelas ini saya akan menyebarkan rumor bahwa bapak selingkuh dengan ibu X

wali kelas : kenapa kamu melakukan itu ?

B :  apapun yang terjadi, bapak harus bertanggungjawab terhadap rumor tersebut

wali kelas : kenapa saya harus dipaksa mengakui dan bertanggung jawab untuk kesalahan yang tidak saya lakukan, rumor jelek memang menimpa saya tapi bukan berarti itu adalah kebenaran.

B : bapak harus menandatangani lembar pernyataan permintaan maaf, mengakui kesalahan bapak, dan mengklarifikasi semua rumor yang beredar di luar sana.

wali kelas : kenapa saya harus bertanggung jawab atas rumor ?

B : karena bapak adalah subjek dari rumor,

wali kelas terdiam, kemudian si B melangkah keluar dari ruang guru.

------------------------------------------------------------------

cuplikan adegan di atas membuat saya berpikir, hal seperti ini seringkali terjadi di masyarakat kita. sebuah prasangka, spekulasi yang kemudian terkristalisasi menjadi sebuah opini berujung fitnah.

ya, kita adalah bangsa sakit yang hidup di negara opini.

opini adalah hal paling laku di negeri ini, tidak heran media media berbasis opini menuai traffic gurih berujung pundi pundi rupiah bermodal opini subjektif ditambah bumbu bumbu data dan fakta sedikit sedikit.

bahkan tulisan ini pun merupakan opini.

spekulasi, asumsi, ditambah sedikit aroma iri dan sirik plus bumbu kebencian sukses mendulang fitnah dengan sangat mudah di negeri ini.

sudah banyak mereka yang tumbang akibat kejahatan aksara kata model begini, mereka yang sukses menyandang "gelar baru" akibat penghakiman tak berdasar dituntut untuk mengklarifikasi hal hal yang sudah sangat jauh dari substansi sebenarnya.

tidakkah ini sebuah kejahatan terstruktur bin murah yang dilakukan akibat kebodohan pikir dan kurangnya pengendalian diri ?

pikiran yang objektif, pengendalian diri, dan nurani yang bersih menjadi barang langka yang mampu menghindarkan kita dari kerasnya hidup di negara opini ini.

opini itu baik, karena merupakan kritik membangun yang disampaikan dengan santun. jika memang benar itu opini, jika diliputi kebencian, amarah, semangat menjatuhkan opini tersebut tidak lebih dari hate speech berkedok opini.

semoga kemudahan teknologi tidak membuat kita mempermalukan diri sendiri dengan mengirim spekulasi ngawur berbentuk opini bernafaskan kebencian tanpa pikir panjang, yang pada akhirnya tidak mampu kita tangani akibat yang ia sebabkan.

karena anak panah yang dilesatkan menembus jantung, meskipun bisa dicabut dan sembuh akan selalu meninggalkan keperihan batin tak terlupakan.



Surabaya, 11 April 2016



Riffat Akhsan

Comments

Popular posts from this blog

Hong Kong Day 3: Mengagumi Hong Kong Secara Pelan-Pelan

Halo, terima kasih untuk kamu yang kembali ke sini. kisah tentang Hong Kong sengaja saya ceritakan per hari, agar saya juga mengingat dengan syukur bahwa doa saya terkabul. bahwa mimpi saya terwujud. cuaca saat itu bagus (tidak terjadi thypoon). udara juga cocok untuk saya (pertengahan musim semi). dan semoga, kamu juga bisa meginjakkan kaki ke Hong Kong. Hari Ketiga di Hong Kong adalah harinya slow down. karena saya harus mengatur energi saya dengan baik. hari pertama dan kedua udah dar der dor banget. hari ketiga saya usahakan pace nya lebih lambat. di hari ketiga ini pula saya hanya jalan-jalan berdua dengan Fatimah. karena, Annisa ke Disneyland. KFC Wan Chai dan Jalan Masuk Menuju Wan Chai Market perjalanan kami mulai dari KFC Wan Chai sebagai tujuan sarapan. KFC ini adalah cabang KFC halal terdekat dari apartment, lokasinya persis di depan tram station. ternyata, menu yang ready saat itu baru menu - menu light meal ala KFC seperti sup krim dan omelette. sementara saya dan Fatimah ...

Rasanya Kuliah di Teknik Sipil Itu..

Rasanya Kuliah di Teknik Sipil itu.. FUN :) yah berkuliah di jurusan yang menangani realisasi dari perencanaan pembangunan. simple nya jurusan yang menghitung kemungkinan bisa tidaknya sebuah rencana bangunan dibangun, atau lebih gampangnya lagi adalah jurusan tukang. adalah jurusan yang 90% peminatnya adalah cowok. dan saya adalah bagian dari jurusan ini. kalian bisa bayangkan, kelas saya. kelas H teknik sipil berjumlah 45 mahasiswa dengan komposisi mahasiswa cowok 43 orang dan mahasiswa cewek 3 orang (termasuk saya). kalau kelas kita dicampur, maksimal cewek dalam satu kelas adalah 9 orang. itu sudah paling banyak. keadaan seperti itu, setiap hari senin-jum'at.  di awal awal masa perkuliahan membuat saya berpikir kayaknya-saya-salah-jurusan-deh. bagi seorang mahasiswa yang selama SMP dan SMA selalu berada di ruang kelas yang satu kelas cewek semua, hal ini sangat baru bagi saya. tapi ini harus saya jalani. dari segi materi, di teknik sipil kamu tidak akan pernah b...

Beryl’s Jalan Panggong Outlet - Kuala Lumpur

  "Riffat, ayo makan buah cokelat"  waktu itu dia petik buah kakao itu, dibukanya, dan disodorkan ke saya "buah cokelat" versi dia.  buah cokelat yang dalam kenyataannya adalah biji kakao. saya masih ingat, rasanya manis dan ada hint pahit. teksturnya seperti buah sirsak versi lebih padat.   rasanya itu adalah awal mula ketertarikan saya dengan cokelat. tetangga saya yang punya pohon kakao di rumahnya.  setelah pengalaman memakan biji kakao mentah itu, perjalanan saya dengan cokelat tidak jauh - jauh dari merek Silverqueen dan Toblerone. trus waktu abah saya pulang dari luar negeri, saya baru tau ada merek cokelat bernama Cadburry. sisanya, ya cokelat ayam murah yang lengket di lidah. lalu, suatu hari saya berkesempatan mengunjungi outlet cokelat ini di Kuala Lumpur. ini bukan sekedar outlet, dia punya costumer experience style yang memberikan transfer knowledge tentang proses bean to bar mulai dari biji kakao sampai ke bentuk akhir cokelat siap makan. mung...