Skip to main content

Konvoi Arema, Tour De Angkot, dan Extend di Malang


hari kedua di Malang, saya bangun dengan pemandangan gunung yang meskipun diselimuti kabut tipis tapi tetap terlihat sempurna dari jendela lantai 8 kamar tempat saya menginap.



saya selalu suka berada di tempat tinggi, karena semakin banyak yang terlihat, semakin bijak kita memaknainya.


mereka yang berada di "tempat rendah" sering nyinyir dan benci atas keputusan mereka yang berada di "tempat tinggi". mereka lupa bahwa mereka tidak melihat apa yang "orang tempat tinggi" lihat.

bias kelas, bias perspektif, bertindak spekulatif, judgemental, mendewakan asumsi. ah tidak perlulah saya membahas terlalu jauh ciri pokok "tempat tinggi" maupun "tempat rendah".


sebelumnya saya sudah dikabari kak Ai kalau kunjungan saya  di Malang bersamaan dengan konvoi arema 16 - 17 April dalam rangka pengarakan piala Bhayangkara.



sebelumnya sudah pernah kejadian, tindakan anarkis perusakan kendaraan dan tindakan anarkisme lain yang dilakukan oleh suporter arema terhadap kendaraan plat L (Surabaya) sehingga saya sengaja menggunakan kendaraan plat W (Gresik, Sidoarjo) sebagai antisipasi.

kelar sarapan, dan ketemu lalas dan fikri saya baru menyadari bahwa jalan raya depan tempat saya menginap sudah  penuh dengan massa suporter arema :(


nggak lama mas Naufal japri "fat, jangan keluar deh. ini temenku plat W kendaraan nya diserang"

nah loh. bingung kan saya, beberapa tamu di tempat saya menginap juga terlihat pesan taksi lokal dan carter mobil dengan plat N.

saya, Rusma, Fikri, Lalas dan kak Ai sibuk berdiskusi. gimana caranya dengan keadaan sepadat itu sementara waktu sudah menunjukkan pukul 12, Fikri harus mengejar kereta jam 5 sore tapi barangnya dia masih di Landung Sari (daerah univ muhammadiyah Malang) sementara kendaraan saya plat W nggak bisa keluar dari penginapan saya di S. Parman.

menggunakan taksi atau mobil lokal sepertinya bukan jawaban, karena posisi penginapan saya di pusat, stasiun kereta di selatan, dan Landung Sari di utara. pasti macet dimana mana.



karakter konvoi Arema ini berbeda seperti konvoi Bonek (suporter persebaya). kalau Bonek mau konvoi kami tau mereka pasti berkumpul dulu di stadion tambak sari kemudian konvoi yang biasanya finish di gelora pancasila. namun ini Malang bung, suporter Arema berangkat menjadi kelompok kelompok dari seluruh penjuru Malang Raya dan Kabupaten Malang, kumpul di stasion Kanjuruhan kemudian konvoi keliling kota.

apalagi stasiun kereta menjadi salah satu titik kumpul mereka.

kalau Bonek konvoi, kami sudah ancang ancang mencari jalur alternatif yang nggak dilewati mereka dan mencari waktu yang sekiranya aman tidak bertemu mereka di persimpangan atau di jalan.

lah ini ? kami merasa dikepung di kandang lawan. !



akhirnya kak Ai memutuskan kita bareng bareng ke Landung Sari naik angkot, dengan catatan di Landung Sari Fikri kelar ambil barang diantar Alpa naik motor, Rusma dijemput Mas Naufal, Kak Ai dan Lalas dijemput temen kak A ke Suhat, dan Saya dijemput Eldew buat ambil kendaraan di penginapan.

sebelum ke Landung Sari saya menyempatkan diri ke basement parkir penginapan, sedih rasanya melihat kendaran Plat L dan Plat W terparkir rapi di basement. bukan karena parkiran penuh, tapi karena saya tau pemiliki kendaraan keluar dengan taksi atau carter mobil plat lokal.

tour de angkot dimulai ~

kami naik angkot dengan kode ADL (Arjosari - Dinoyo - Landung Sari)

rute angkot ADL ini udah persislah kayak city tour dimana kita melewati balaikota sampai berakhir di Landung Sari yang merupakan perbatasan Kota Malang dengan Kota Batu.

ya sebenarnya kami naik angkot mengandalkan kehandalan supirnya yang mampu mencari jalan tikus menghindari kemacetan, meskipun itu hampir nggak mungkin karena massa Arema dimana mana tapi ya sudahlah pasti ada jalan :))

      
lautan manusia dengan atribut biru biru dan boneka singa ditambah speaker menggelegar dan perkusi menjadi pemandangan kami selama perjalanan. ncen singo edian :))).

sampe Landung Sari, Fikri langsung ambil barang trus pamit balik ke Semarang.

Lalas sama Kak Ai siap siap ke rumah kak Ai dijemput temen kak Ai.

Rusma dijemput Mas Naufal pake plat S. aman.

saya dijemput Eldew, DAN SAYA LUPA KALAU MOTOR ELDEW PLAT L.

begitu ketemu kami Eldew langsung heboh, dese panik gitu karena sepanjang jalan dese diintimidasi karena plat L.

tuhan, apalah arti sebuah plat.

"fat, kamu ada asuransi jiwa nggak ?"

tanya Eldew setengah bercanda, karena saya dan dia bakal boncengan buat ambil kendaraan saya di S. Parman melewati lautan singo edan.

kak Ai, Lalas, Rusma, dan Mas Naufal juga ikut khawatir saya sama Eldew yang "setor nyawa" dengan plat L. tapi di sisi lain mereka penasaran juga sama sensasi "setor nyawa" ini.

perjalanan penuh resiko dimulai ~

WO WO WO PLAT L WOOOOO

tiap ketemu rombongan yang dengan bendera segede gaban yang nggak ikut konvoi tapi memilih di pinggir jalan "melepas" rombongan konvoi, kami diteriaki dengan tabuhan perkusi.

Allah ~

tiap ketemu rombongan konvoi, kami minggir dulu. membiarkan mereka lewat sambil tahan tahan kuping.

WOOOOO PLAT L REK PLAT L....

WO WO WO PLAT L WOOOOO

seru mereka sambil mengacung acungkan sesuatu seakan hendak melempari kami.


PLAT L MINGGIR PLAT L MINGGIR.....

seru salah satu dari peserta konvoi dengan galak, dan disoraki oleh yang lain.

WOOO PLAT L WOOOO

kami terintimidasi, bukan. kami takut, apakah kami selamat ?

MAS MAS PLAT L MAJU MAS MAJU ! CEPET MAJU !  

ujar salah satu rombongan lain yang merasa kami halangi perjalanan bersama rombongannya.

duh, salah sepertinya kami ada di jalanan Malang.


akhirnya sampai juga di S Parman. drama dibikin takut kelar, lanjut drama plat L dan plat W berjalanan beriringan menantang maut.

Alhamdulillah dari S. Parman ke Veteran kontrakan mas Naufal kami banyak melewati jalan kecil, sehingga meskipun tetap harus melewati jalan protokol tapi intimidasi yang kami rasakan tidak separah Landung Sari - S. Parman.

hari sudah malam, tapi kak Ai menyarankan jangan dulu balik ke Surabaya karena masih ada kemungkinan rombongan Arema di kabupaten yang sangat berpotensi bertindak anarkis.

akhirnya kami memutuskan untuk extend di Malang, Rusma tidur sama kak Lia di kontrakan mas Naufal dan saya bareng Lalas tidur di rumah kak Ai.


konvoi Arema memberi pelajaran pada saya tentang kuatnya solidaritas karena persamaan. mereka dengan sukarela selalu mendukung klub sepakbola kesayangannya, transportasi urunan, kalau ada yang bawa mobil bisa nunut. sound sistem pinjem sama anggota yang punya. semua serba atas nama solidaritas dan kebersaman.

karena bersama (berkelompok) mereka merasa kuat, mereka merasa besar, mereka merasa punya power.


plat L dan plat W, iya kami memang tamu. tapi apakah tuan rumah yang baik adalah mereka yang menakut nakuti tamunya dengan anarkisme ?

kami ke Malang bukan buat petantang petenteng nantang, kami ke Malang ingin rehat dari segala sesuatu yang menyesakkan. kami ingin bertemu dengan mereka yang menyayangi kami. kami ingin refresh.

tapi kenyataan nya takut dan trauma yang kami dapat.

kami ke Malang dengan biaya sendiri, yang mana kami bayarkan untuk beli makan (kesejahteraan mak warung meningkat), kami menginap di penginapan legal (yang pajaknya digunakan untuk membangun jalan, bisa jadi menjadi bagian dari rute konvoi), kami membeli tiket masuk tempat wisata (meningkatkan pendapatan asli daerah), dan kami menuliskan perjalanan serta berfoto (mempromosikan dengan gratis).

konvoi, nyanyi nyanyi, membunyikan alat perkusi yang menimbulkan dentuman keras boleh. tapi anarkis jangan.

besok besok saya pikir pikir lagi deh mau ke Malang kalau pas ada konvoi Arema lagi, saya liburan mau bahagia, bukan mau dibuat sedih.





Surabaya, 21 April 2016



Riffat Akhsan

Comments

Popular posts from this blog

Hong Kong Day 3: Mengagumi Hong Kong Secara Pelan-Pelan

Halo, terima kasih untuk kamu yang kembali ke sini. kisah tentang Hong Kong sengaja saya ceritakan per hari, agar saya juga mengingat dengan syukur bahwa doa saya terkabul. bahwa mimpi saya terwujud. cuaca saat itu bagus (tidak terjadi thypoon). udara juga cocok untuk saya (pertengahan musim semi). dan semoga, kamu juga bisa meginjakkan kaki ke Hong Kong. Hari Ketiga di Hong Kong adalah harinya slow down. karena saya harus mengatur energi saya dengan baik. hari pertama dan kedua udah dar der dor banget. hari ketiga saya usahakan pace nya lebih lambat. di hari ketiga ini pula saya hanya jalan-jalan berdua dengan Fatimah. karena, Annisa ke Disneyland. KFC Wan Chai dan Jalan Masuk Menuju Wan Chai Market perjalanan kami mulai dari KFC Wan Chai sebagai tujuan sarapan. KFC ini adalah cabang KFC halal terdekat dari apartment, lokasinya persis di depan tram station. ternyata, menu yang ready saat itu baru menu - menu light meal ala KFC seperti sup krim dan omelette. sementara saya dan Fatimah ...

Rasanya Kuliah di Teknik Sipil Itu..

Rasanya Kuliah di Teknik Sipil itu.. FUN :) yah berkuliah di jurusan yang menangani realisasi dari perencanaan pembangunan. simple nya jurusan yang menghitung kemungkinan bisa tidaknya sebuah rencana bangunan dibangun, atau lebih gampangnya lagi adalah jurusan tukang. adalah jurusan yang 90% peminatnya adalah cowok. dan saya adalah bagian dari jurusan ini. kalian bisa bayangkan, kelas saya. kelas H teknik sipil berjumlah 45 mahasiswa dengan komposisi mahasiswa cowok 43 orang dan mahasiswa cewek 3 orang (termasuk saya). kalau kelas kita dicampur, maksimal cewek dalam satu kelas adalah 9 orang. itu sudah paling banyak. keadaan seperti itu, setiap hari senin-jum'at.  di awal awal masa perkuliahan membuat saya berpikir kayaknya-saya-salah-jurusan-deh. bagi seorang mahasiswa yang selama SMP dan SMA selalu berada di ruang kelas yang satu kelas cewek semua, hal ini sangat baru bagi saya. tapi ini harus saya jalani. dari segi materi, di teknik sipil kamu tidak akan pernah b...

Beryl’s Jalan Panggong Outlet - Kuala Lumpur

  "Riffat, ayo makan buah cokelat"  waktu itu dia petik buah kakao itu, dibukanya, dan disodorkan ke saya "buah cokelat" versi dia.  buah cokelat yang dalam kenyataannya adalah biji kakao. saya masih ingat, rasanya manis dan ada hint pahit. teksturnya seperti buah sirsak versi lebih padat.   rasanya itu adalah awal mula ketertarikan saya dengan cokelat. tetangga saya yang punya pohon kakao di rumahnya.  setelah pengalaman memakan biji kakao mentah itu, perjalanan saya dengan cokelat tidak jauh - jauh dari merek Silverqueen dan Toblerone. trus waktu abah saya pulang dari luar negeri, saya baru tau ada merek cokelat bernama Cadburry. sisanya, ya cokelat ayam murah yang lengket di lidah. lalu, suatu hari saya berkesempatan mengunjungi outlet cokelat ini di Kuala Lumpur. ini bukan sekedar outlet, dia punya costumer experience style yang memberikan transfer knowledge tentang proses bean to bar mulai dari biji kakao sampai ke bentuk akhir cokelat siap makan. mung...