Skip to main content

Melihat Masa Depan

Photo by Natalya Letunova on Unsplash


saudara saya, Fatimah bercerita kalau ia melihat dirinya di masa depan memiliki kemampuan untuk melihat, menggambar, dan menduplikasi bangunan yang menarik hatinya. saat ini ia bertekad untuk menikah, kuliah magister arsitektur di Bali, dan bekerja di Firma Arsitektur yang memberi dia penghasilan melebihi gaya hidupnya. di luar nafkah finansial dari suaminya. tentu saja.


Photo by Julian Hochgesang on Unsplash


bagi saya, masa depan itu serupa jalan tanah di tengah hutan saat pagi hari. bermandi matahari, memiliki rumput segar di bahu jalannya, ada aroma  petrichor karena embun, (petrichor menggambarkan harum tanah basah terkena air), misterius, tapi penuh cahaya optimisme, meskipun risiko dan tantangan hadir menyertainya.

sesuatu yang memiliki konsekuensi. jika saya ingin sesuatu, maka saya harus menggadai sesuatu. 

let me begin the story....

semenjak sekolah dasar, saya mengorbankan diri saya dengan menjadi ambisius perkara keuangan perusahaan. kala itu SD kelas lima, anak sekecil itu belajar bahwa performa perusahaan memiliki dampak sistemik pada keluarga pemilik. jangankan bangkrut, kekurangan cashflow juga bisa merubah hidup seorang bocah SD dengan memberi trauma bingung mengapa saat tahun ajaran baru hanya ia yang tidak bisa membeli buku dan sepatu baru di sekolah elit kota kecil.

kenyataan itu menggadai mimpinya. ia berjuang untuk mengabdi ke perusahaan. semenjak sekolah dasar hidupnya ia dedikasikan untuk belajar. karena dalam benaknya, kalau ia belajar keras maka performa perusahaan akan membaik di tangannya sebagai pewaris. maka kejadian SD kelas lima nya tidak akan terulang lagi.

SMP, di saat teman - temannya belajar mencintai diam diam. ia belajar tentang memenangkan kompetisi. ia menyusun mimpi untuk kuliah di luar negeri. di benak bocah ABG kelas tujuh itu, dengan menjadi lulusan luar negeri maka ia akan memenangkan kompetisi. tidak ada lagi cerita kelas lima nya. perusahaan akan berkembang dengan antisipasi lulusan luar negeri. karena ia melakukan inovasi dalam aspek pengembangan sumber daya manusia.

SMA, teman - temannya mulai merasakan jatuh cinta. belajar patah hati. juga lapang dada bahwa cinta tidak harus memiliki. ia masih sibuk belajar karena SMA nya menganut kurikulum internasional dari negeri Ratu Elizabeth. si remaja merasa mimpinya semakin dekat.

kuliah, ia mulai sadar bahwa lagi - lagi karena cashflow ia gagal ke luar negeri. Letter of Acceptance dari negeri kanguru kini tinggal kenangan. ia sudah berada di gerbang, namun tidak bisa berangkat. karena perkara yang sama seperti trauma kelas lima.

tidak mungkin mencari beasiswa untuk kuliah sarjana. sakit thypus berbulan bulan menjadi alasan kenapa si bocah menunda kuliah satu tahun.

2013, si bocah berkuliah di jurusan pilihan orangtuanya. teknik sipil. jurusan yang menjadi tiket untuk mengantarkan ia ke tampuk pimpinan perusahaan. menjadi direktur utama. jurusan yang ia yakini merupakan mimpinya. jurusan yang menjadi keharusan di keluarganya.

di kampus Arif Rahman Hakim dekat asrama haji itu, si bocah menemukan kebahagiaan. ia bersyukur dengan kegagalan di luar negeri. di sana ia mengenal arti pertemanan dan persahabatan. perkuliahan dan tanggungjawab.

juga cinta pertama.

sayang, mereka tidak bisa bersama karena perbedaan kasta. anggaplah begitu.

si bocah juga belajar arti merelakan takdir tuhan. bertemu dengan ia yang diyakini akan bersama tapi sayang berbeda agama.

tuntas sudah pelajaran tentang cinta dan bahagia di masa mahasiswa. si bocah harus kembali menelan kenyataan pahit trauma kelas lima.

di saat kuliah hanya tinggal dua semester, ia harus berkorban pindah kuliah dan bekerja di perusahaan. lagi - lagi karena cashflow ia harus akselerasi masuk dunia kerja. kuliah sambil bekerja. kala itu, perusahaan milik keluarganya bekerja sama dengan perusahaan milik negeri. menangani proyek jalan di Pulau Kalimantan.

dari sana ia memulai hidup. merasakan manisnya gaji harus didahului dengan keringat. tidak ada makan siang gratis. semua ada argonya. 

proyek jalan menyelamatkan kuliahnya, ia lulus dan akhirnya jadi sarjana. kelulusan ini ia syukuri dengan sukacita. ia merasa hidupnya sempurna. jalan inilah yang mantap ia pilih. memegang perusahaan, mendapat penghidupan, dan mengaji kitab setiap senin - selasa.

tapi ia salah, keberadaannya tidak diperlukan. dari awal ia memang tidak memiliki tempat di perusahaan tersebut. 

Photo by Moritz Kindler on Unsplash 


sepuluh tahun lalu, saya bermimpi ingin laptop Apple. kala itu jaman jaman SMA kayaknya. jaman jaman cari laptop karena benda itu diwajibkan sekolah. tapi saat itu saya gagal dapat laptop tersebut. mungkin karena belum waktunya ya. akhirnya saya beli toshiba. 

di semester tiga kuliah, saya mulai tau wujud dari laptop Apple itu. Macbook namanya. Macbook Pro tepatnya. wujud laptop yang mengisi imajinasi saya. tapi kemudian saya tau kalau laptop itu harganya mahal. sepeda motor dijual pun masih belum kebeli itu Macbook. akhirnya saya beli Asus.

2020, setelah empat tahun bekerja mimpi saya pada Macbook mulai terbuka jalannya. berkat saudara kembar saya yang getol cerita Macbook bekas di bukalapak. lama lama kan saya gedeg juga. tapi hal itulah yang men-encourage saya untuk berani (lagi) bermimpi membeli Macbook. 

saya sempat mengubur impian untuk punya laptop Apple. karena menurut saya it's too high to reach. saya malah menyusun mimpi baru untuk membeli Laptop Microsoft Surface Book yang diketawain sama sodara saya karena nggak ada service centre nya. kala itu saya berpikir kalau Macbook itu udah nggak sesuai sama kebutuhan saya sekalipun saya ada uang buat beli. 


Photo by Surface on Unsplash


suatu pagi, saya menyadari bahwa Macbook bukan lagi tentang barang dengan fungsi yang tidak sesuai harga. ini tentang mimpi yang menjadi nyata.  

seminggu lalu, mimpi ini sampai ke rumah saya. dikirim dari Singapura, ia saya jemput di kantor kurir meski saya menunggu satu jam dulu sebelum kantornya buka. satu jam bukan waktu yang lama mengingat empat belas hari sebelumnya saya terus berdoa agar ia segera keluar dari custom clearance.

yup, mimpi itu akhirnya saya wujudkan 29 April namun baru 11 Mei ia benar benar sampai.

dari Macbook Pro yang saya pakai menulis postingan inilah saya kembali belajar. bahwa mengubur mimpi dan mengorbankan diri sendiri bukanlah solusi. 

menjalani hidup bisa jadi sesederhana mengangkat doa di malam hari. berkata jujur tanpa kiasan pada sang pemilik waktu. jujur kepada diri sendiri. berkontemplasi dalam hening. jujur kepada sang pemilik dunia. menerima takdir sebagai jawaban dari doa.

saya kemudian melepaskan segalanya, perusahaan, tanggungjawab, dan ambisi. saya memilih jalan yang saya yakini akan membawa saya kepada mimpi saya berkuliah di negeri para peri. saya terima tawaran perusahaan milik negeri untuk bekerja di kantor wilayah di kota minyak tepi pantai Kalimantan Timur. 

inilah babak baru hidup saya.


Photo by Ken Cheung on Unsplash


sekarang, saya melihat masa depan tak lagi sama. ia serupa galaxy milky way. terlihat jauh, tapi sebenarnya saya sudah berada di dalamnya. 

masa depan kini berwujud langit luas penuh bintang yang saya susun bersama pendamping hidup dalam bingkai pernikahan. setelah saya selesai dengan diri sendiri. kami melihat bersama, menjadi solusi atas masalah satu sama lain. saling mendukung, mencintai, dan mengerti. berbagi beban tanpa menjadi beban. berkompromi dan diskusi tanpa menjustifikasi. pasangan sehidup semati. pertaruhan yang akhirnya saling menemukan.

ya, pernikahan merupakan solusi. untuk saya yang tak lagi kuat sendiri.


Photo by Markus Winkler on Unsplash
 

jadi Riffat, apa yang kamu lihat 10 tahun kedepan ?

saya melihat diri saya meraih mimpi. a lady who live in dreamy world.




Bontang, 18 Mei 2020
25 Ramadhan 1441 Hijriah





Riffat Akhsan, yang yakin tadi malam adalah malam turunnya Lailatul Qadar.

Comments

Popular posts from this blog

Hong Kong Day 3: Mengagumi Hong Kong Secara Pelan-Pelan

Halo, terima kasih untuk kamu yang kembali ke sini. kisah tentang Hong Kong sengaja saya ceritakan per hari, agar saya juga mengingat dengan syukur bahwa doa saya terkabul. bahwa mimpi saya terwujud. cuaca saat itu bagus (tidak terjadi thypoon). udara juga cocok untuk saya (pertengahan musim semi). dan semoga, kamu juga bisa meginjakkan kaki ke Hong Kong. Hari Ketiga di Hong Kong adalah harinya slow down. karena saya harus mengatur energi saya dengan baik. hari pertama dan kedua udah dar der dor banget. hari ketiga saya usahakan pace nya lebih lambat. di hari ketiga ini pula saya hanya jalan-jalan berdua dengan Fatimah. karena, Annisa ke Disneyland. KFC Wan Chai dan Jalan Masuk Menuju Wan Chai Market perjalanan kami mulai dari KFC Wan Chai sebagai tujuan sarapan. KFC ini adalah cabang KFC halal terdekat dari apartment, lokasinya persis di depan tram station. ternyata, menu yang ready saat itu baru menu - menu light meal ala KFC seperti sup krim dan omelette. sementara saya dan Fatimah ...

Rasanya Kuliah di Teknik Sipil Itu..

Rasanya Kuliah di Teknik Sipil itu.. FUN :) yah berkuliah di jurusan yang menangani realisasi dari perencanaan pembangunan. simple nya jurusan yang menghitung kemungkinan bisa tidaknya sebuah rencana bangunan dibangun, atau lebih gampangnya lagi adalah jurusan tukang. adalah jurusan yang 90% peminatnya adalah cowok. dan saya adalah bagian dari jurusan ini. kalian bisa bayangkan, kelas saya. kelas H teknik sipil berjumlah 45 mahasiswa dengan komposisi mahasiswa cowok 43 orang dan mahasiswa cewek 3 orang (termasuk saya). kalau kelas kita dicampur, maksimal cewek dalam satu kelas adalah 9 orang. itu sudah paling banyak. keadaan seperti itu, setiap hari senin-jum'at.  di awal awal masa perkuliahan membuat saya berpikir kayaknya-saya-salah-jurusan-deh. bagi seorang mahasiswa yang selama SMP dan SMA selalu berada di ruang kelas yang satu kelas cewek semua, hal ini sangat baru bagi saya. tapi ini harus saya jalani. dari segi materi, di teknik sipil kamu tidak akan pernah b...

Beryl’s Jalan Panggong Outlet - Kuala Lumpur

  "Riffat, ayo makan buah cokelat"  waktu itu dia petik buah kakao itu, dibukanya, dan disodorkan ke saya "buah cokelat" versi dia.  buah cokelat yang dalam kenyataannya adalah biji kakao. saya masih ingat, rasanya manis dan ada hint pahit. teksturnya seperti buah sirsak versi lebih padat.   rasanya itu adalah awal mula ketertarikan saya dengan cokelat. tetangga saya yang punya pohon kakao di rumahnya.  setelah pengalaman memakan biji kakao mentah itu, perjalanan saya dengan cokelat tidak jauh - jauh dari merek Silverqueen dan Toblerone. trus waktu abah saya pulang dari luar negeri, saya baru tau ada merek cokelat bernama Cadburry. sisanya, ya cokelat ayam murah yang lengket di lidah. lalu, suatu hari saya berkesempatan mengunjungi outlet cokelat ini di Kuala Lumpur. ini bukan sekedar outlet, dia punya costumer experience style yang memberikan transfer knowledge tentang proses bean to bar mulai dari biji kakao sampai ke bentuk akhir cokelat siap makan. mung...