Skip to main content

Library Eatery By Uranus, Cafe Tenang dengan Aroma Literasi yang Kuat.



sabtu malam, masnya lagi lembur. masnya Rusma juga ada acara hangout sama cowok cowok. saya dan Rusma juga lagi banyak tugas dan kerjaan.

YA TAPI MASA MALAM MINGGUAN KITA CUMA DIRUMAH AJA SIK

ikut rame rame nya malam minggu lah, tiap malam kita udah sibuk di kampus kan.... pikir saya.

"rus kerjaan sama tugas ini dibawa. kita kemana gitu, ganti suasana lah"

ajak saya yang dijawab Rusma dengan

"tapi ini kan malam minggu ?"

"kita cari tempat yang super segmented, pasti ada tempat kosong. kita hindari mall, pasti penuh orang. cafe dengan konsep general juga jangan, kecil kemungkinan ada tempat kosong."

"hmm, kalau kamu ada saran nggak ?"

tanya Rusma balik

"kalau aku mikirnya kita cari Librarian Cafe aja Rus"

"ayo"



Librarian Cafe adalah istilah bagi saya untuk cafe atau tempat makan yang terletak berdekatan dengan toko buku, dibangun sebagai salah satu fasilitas literasi. tempatnya biasanya tenang, bukan terletak di basement atau parkiran, dan segmentasinya cenderung sangat spesifik, untuk mereka mereka yang menginginkan suasana lain terhadap kecintaan pada buku namun masih terasa kental nuansa literasinya.

Librarian Cafe yang Saya tau di Surabaya hanya ada 3 : Library Cafe di Gramedia Expo Basuki Rahmat, Helick Gelato Perpustakaan Bank Indonesia Mayangkara, dan Lybrary Eatery di sebelah toko buku Uranus Jl. Ngagel Jaya.

malam itu mood saya menuntun untuk ke Library Eatery Uranus.

begitu membuka pintu cafe ini saya dan Rusma disambut oleh para mbak mbak pelayan yang sangat ramah, kami lalu langsung memesan Green Tea Frappe di kasir. disana kami diberitahu bahwa ada beberapa tempat kosong di lantai 2 dan mbak mbak nya memberikan beberapa rekomendasi tempat pada kami yang nyari tempat dekat colokan.

aroma literasi sangat kuat bahkan hanya beberapa detik setelah saya masuk, dengan pencahayaan yang temaram namun cukup terang untuk membaca, mereka yang hadir disini cenderung berbicara lirih sehingga tidak menganggu ketenangan pengunjung lain.

di sebelah kiri, sebelum saya dan Rusma naik ke tangga menuju lantai 2 terdapat rak buku berisi textbook dari beberapa disiplin ilmu (yang sayangnya nggak ada textbook teknik sipil) majalah, novel, dan beberapa buku bacaan non fiksi yang cukup langka. ditata dengan penataan yang cukup unik, membuat yang melihat merasakan magnet literasinya.



saya adalah seorang cucu dari pedagang buku. kai (kakek) sering mengajak saya ke toko beliau. mungkin itu yang membentuk alam bawah sadar saya menjadikan seseorang yang sangat produktif jika dikelilingi oleh buku buku. ada ketenangan tersendiri rasanya bekerja di ruang baca yang menjanjikan ketenangan yang tidak menakutkan.

cafe ini terbagi menjadi dua bagian, indoor dan outdoor. kebetulan saya memilih bagian outdoor, memang sedikit panas karena tidak ada pendingin udara. namun menikmati pemandangan jalan pucang anom timur yang padatdi malam minggu dalam suasana balkon yang nyaman memberikan suatu nuansa baru di malam minggu.

menyenangkan rasanya bisa bekerja dengan suasana lain yang memberikan suatu pengalaman baru.



pekerjaan bukan lagi jadi penghalang malam mingguan kan ?






Surabaya, 12 Juni 2015





Rifa Akhsan


Comments

Popular posts from this blog

Hong Kong Day 3: Mengagumi Hong Kong Secara Pelan-Pelan

Halo, terima kasih untuk kamu yang kembali ke sini. kisah tentang Hong Kong sengaja saya ceritakan per hari, agar saya juga mengingat dengan syukur bahwa doa saya terkabul. bahwa mimpi saya terwujud. cuaca saat itu bagus (tidak terjadi thypoon). udara juga cocok untuk saya (pertengahan musim semi). dan semoga, kamu juga bisa meginjakkan kaki ke Hong Kong. Hari Ketiga di Hong Kong adalah harinya slow down. karena saya harus mengatur energi saya dengan baik. hari pertama dan kedua udah dar der dor banget. hari ketiga saya usahakan pace nya lebih lambat. di hari ketiga ini pula saya hanya jalan-jalan berdua dengan Fatimah. karena, Annisa ke Disneyland. KFC Wan Chai dan Jalan Masuk Menuju Wan Chai Market perjalanan kami mulai dari KFC Wan Chai sebagai tujuan sarapan. KFC ini adalah cabang KFC halal terdekat dari apartment, lokasinya persis di depan tram station. ternyata, menu yang ready saat itu baru menu - menu light meal ala KFC seperti sup krim dan omelette. sementara saya dan Fatimah ...

Rasanya Kuliah di Teknik Sipil Itu..

Rasanya Kuliah di Teknik Sipil itu.. FUN :) yah berkuliah di jurusan yang menangani realisasi dari perencanaan pembangunan. simple nya jurusan yang menghitung kemungkinan bisa tidaknya sebuah rencana bangunan dibangun, atau lebih gampangnya lagi adalah jurusan tukang. adalah jurusan yang 90% peminatnya adalah cowok. dan saya adalah bagian dari jurusan ini. kalian bisa bayangkan, kelas saya. kelas H teknik sipil berjumlah 45 mahasiswa dengan komposisi mahasiswa cowok 43 orang dan mahasiswa cewek 3 orang (termasuk saya). kalau kelas kita dicampur, maksimal cewek dalam satu kelas adalah 9 orang. itu sudah paling banyak. keadaan seperti itu, setiap hari senin-jum'at.  di awal awal masa perkuliahan membuat saya berpikir kayaknya-saya-salah-jurusan-deh. bagi seorang mahasiswa yang selama SMP dan SMA selalu berada di ruang kelas yang satu kelas cewek semua, hal ini sangat baru bagi saya. tapi ini harus saya jalani. dari segi materi, di teknik sipil kamu tidak akan pernah b...

Beryl’s Jalan Panggong Outlet - Kuala Lumpur

  "Riffat, ayo makan buah cokelat"  waktu itu dia petik buah kakao itu, dibukanya, dan disodorkan ke saya "buah cokelat" versi dia.  buah cokelat yang dalam kenyataannya adalah biji kakao. saya masih ingat, rasanya manis dan ada hint pahit. teksturnya seperti buah sirsak versi lebih padat.   rasanya itu adalah awal mula ketertarikan saya dengan cokelat. tetangga saya yang punya pohon kakao di rumahnya.  setelah pengalaman memakan biji kakao mentah itu, perjalanan saya dengan cokelat tidak jauh - jauh dari merek Silverqueen dan Toblerone. trus waktu abah saya pulang dari luar negeri, saya baru tau ada merek cokelat bernama Cadburry. sisanya, ya cokelat ayam murah yang lengket di lidah. lalu, suatu hari saya berkesempatan mengunjungi outlet cokelat ini di Kuala Lumpur. ini bukan sekedar outlet, dia punya costumer experience style yang memberikan transfer knowledge tentang proses bean to bar mulai dari biji kakao sampai ke bentuk akhir cokelat siap makan. mung...