Skip to main content

Catatan Akhir Tahun 2020 : Cooling Down, Pandemi, The True Me,

      dikasih filter blue, biar dramatis

bohong kalau saya berkata "tidak terasa yaaa 2020 sudah mau berakhir aja" karena saya selalu menghitung hari demi hari kapan kiranya tahun ini akan berakhir.

sepertinya 2020 memberikan pelajaran tentang arti bersyukur sepanjang tahun. saya "dipaksa" untuk bersyukur sekecil apapun itu. 2020 mengajarkan tidak ada hal yang tidak bisa disyukuri, semua bisa.


Keluarga yang Alhamdulillah Sehat

saya bersyukur, saya dan keluarga selalu sehat. kalaupun sakit hanya penyakit flu atau kecapekan saja. hasil PCR pun Alhamdulillah selalu non reaktif. 



Lingkungan Kantor yang Tidak Toxic

saya beruntung berada di lingkungan kantor yang secara internal minim persaingan individu. office politics cukup bisa diredam karena kepentingan yang berbeda wadah. 

saya nggak bilang kalau kantor saya adalah yang terbaik. ingat, ini masih dunia. belum ada surga hakiki di sini. pasti ada kolega yang bermasalah dalam self management & drive dan bikin makan ati. tapi saya berprinsip bahwa hubungan yang harus sangat concern di maintain setelah hubungan pernikahan dan keluarga, adalah hubungan dengan kolega di kantor. karena saya bertemu dengan mereka dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore selama lima hari kerja (asumsi tidak lembur). jika saya kebanyakan makan hati dan terluka, kantor saya akan terasa seperti neraka.

in the other hand, para kolega tukang semai bibit amarah ini adalah orang - orang kiriman tuhan to sharpen my ability. menciptakan zona sulit agar saya tumbuh dan mudah mendaki langit.

yang berubah harus saya. saya harus pintar menyaman-kan diri saya dan berlapang dada jika ada bibit amarah muncul di dada. saya tidak bisa mengubah sikap dan karakter orang lain. tapi saya bisa mengendalikan bagaimana saya merespon. tentang apa yang saya rasakan, saya masih punya tuhan untuk mengadu dan sederet shopping mall untuk buang sakit hati. 


Rekanan yang Supportif 

sebagai konsultan, tidak jarang menemui owner yang arogan dan sulit sekali diajak koordinasi. masih banyak owner yang berpikiran "lu kan udah gua bayar mahal - mahal, yaudah sini mana hasilnya. nggak usah bikin repot gue dengan minta data ini itu".

saya lagi - lagi beruntung menangani proyek dengan rekanan "ramah" dan supportif. meskipun memang mereka demanding, tapi itu sejalan dengan dukungan yang mereka berikan to make this project works.  

apakah semua mulus dan too good to be true seperti serial Emily in Paris ? oh tentu saja tidak. again, workload owner kadang beyond expectation. itu berpengaruh juga sama self management & drive dari setiap individu di sana. masa sulit pasti ada, tapi Alhamdulillah meskipun berat selalu ada solusi.

yang nggak enak ada ? pasti dong. karena saya (dianggap) masih muda, belum menikah, dan tinggal di dekat kantor. sasaran tembak lembur dan laporan kejadian tidak terduga di luar jam kantor sudah jadi makanan sehari hari. 

trus sering banget di - cengin sama mereka - mereka yang juga belum menikah. bagaimana rasanya digojlokin dan dibully (on positive way) oleh dua sampai tiga orang tenaga ahli yang sama sepanjang tahun ? ya, seperti itu. takut baper.


Pandemic, Time Relativity, God's Destiny

di tahun ini ada banyak sekali barang yang saya inginkan. kemudian karena satu dan lain hal tidak bisa terbeli. kemudian selang beberapa waktu, tuhan membuat barang - barang tersebut bisa terbeli. 

saya menyadari bahwa tuhan maha melihat, maha mendengar, and he gives me at the right time. hal ini terjadi lebih dari sepuluh kali di tahun ini. lagi, 2020 menyadarkan saya bahwa bukan saya centrum dunia. ada tuhan yang memegang cerita. 


Cooling Down and Find The True Me

di tahun ini saya diminta untuk cooling down dari rencana ambisius berjangka saya. rasanya aneh, hanya menjalani hari - hari tanpa melakukan langkah - langkah kecil untuk tujuan besar. paling mungkin hanya mengangkat tangan dan mendaki langit.

namun hal ini membuat saya menjadi lebih mendengar suara dalam diri. menulis tanpa ambisi, ini salah satu impact dari cooling down ini. hasilnya saya jadi pivot dari yang tadinya lifestyle blogger di kala senggang karena sibuk memenuhi tuntutan audience dengan menulis di media arus utama, menjadi lifestyle blogger dengan tulisan berbasis product. saya jadi lebih happy karena ada keseimbangan antara menulis dengan tuntutan dan menulis suka - suka di blogger. 

sebelumnya saya selalu tidak sempat menyelesaikan tulisan di blog ini. seringkali berakhir hanya menjadi draft yang akhirnya saya hapus. karena saya berpikir menulis di sini harus sama bermutu nya dengan menulis di media arus utama. jika effortnya sama, lebih baik saya menulis di media arus utama saja karena di sana jelas berapa ratus audience demanding yang setia menunggu tulisan baru.

hidup bukan untuk mencari kesempurnaan. tapi untuk live to the fullest. live my life. 

 


HERB

he is my biggest gratitude all the year. ini memang masih seumur jagung. ini hidup dalam doa. tapi kami akan terus bekerja sama dan bekerja keras untuk hubungan ini.

After All, 2020 Means...

2020 memberi saya tawa, air mata, hadiah, pusing kepala, dan lain sebagainya. ini berbeda dengan tahun - tahun sebelumnya. namun saya bersyukur saya masih bertahan di tahun ini hingga tulisan ini ditulis. 
untuk 2021, saya berharap mendapatkan lebih banyak kebaikan dan keberkahan. mensemogakan apa apa yang didoakan. amin.

happy New Year 2021




Balikpapan, 23 Desember 2020





Faizah Riffat -- yang besok pagi mau pulang kampung dan kembali awal tahun 

Comments

Popular posts from this blog

Hong Kong Day 3: Mengagumi Hong Kong Secara Pelan-Pelan

Halo, terima kasih untuk kamu yang kembali ke sini. kisah tentang Hong Kong sengaja saya ceritakan per hari, agar saya juga mengingat dengan syukur bahwa doa saya terkabul. bahwa mimpi saya terwujud. cuaca saat itu bagus (tidak terjadi thypoon). udara juga cocok untuk saya (pertengahan musim semi). dan semoga, kamu juga bisa meginjakkan kaki ke Hong Kong. Hari Ketiga di Hong Kong adalah harinya slow down. karena saya harus mengatur energi saya dengan baik. hari pertama dan kedua udah dar der dor banget. hari ketiga saya usahakan pace nya lebih lambat. di hari ketiga ini pula saya hanya jalan-jalan berdua dengan Fatimah. karena, Annisa ke Disneyland. KFC Wan Chai dan Jalan Masuk Menuju Wan Chai Market perjalanan kami mulai dari KFC Wan Chai sebagai tujuan sarapan. KFC ini adalah cabang KFC halal terdekat dari apartment, lokasinya persis di depan tram station. ternyata, menu yang ready saat itu baru menu - menu light meal ala KFC seperti sup krim dan omelette. sementara saya dan Fatimah ...

Rasanya Kuliah di Teknik Sipil Itu..

Rasanya Kuliah di Teknik Sipil itu.. FUN :) yah berkuliah di jurusan yang menangani realisasi dari perencanaan pembangunan. simple nya jurusan yang menghitung kemungkinan bisa tidaknya sebuah rencana bangunan dibangun, atau lebih gampangnya lagi adalah jurusan tukang. adalah jurusan yang 90% peminatnya adalah cowok. dan saya adalah bagian dari jurusan ini. kalian bisa bayangkan, kelas saya. kelas H teknik sipil berjumlah 45 mahasiswa dengan komposisi mahasiswa cowok 43 orang dan mahasiswa cewek 3 orang (termasuk saya). kalau kelas kita dicampur, maksimal cewek dalam satu kelas adalah 9 orang. itu sudah paling banyak. keadaan seperti itu, setiap hari senin-jum'at.  di awal awal masa perkuliahan membuat saya berpikir kayaknya-saya-salah-jurusan-deh. bagi seorang mahasiswa yang selama SMP dan SMA selalu berada di ruang kelas yang satu kelas cewek semua, hal ini sangat baru bagi saya. tapi ini harus saya jalani. dari segi materi, di teknik sipil kamu tidak akan pernah b...

Beryl’s Jalan Panggong Outlet - Kuala Lumpur

  "Riffat, ayo makan buah cokelat"  waktu itu dia petik buah kakao itu, dibukanya, dan disodorkan ke saya "buah cokelat" versi dia.  buah cokelat yang dalam kenyataannya adalah biji kakao. saya masih ingat, rasanya manis dan ada hint pahit. teksturnya seperti buah sirsak versi lebih padat.   rasanya itu adalah awal mula ketertarikan saya dengan cokelat. tetangga saya yang punya pohon kakao di rumahnya.  setelah pengalaman memakan biji kakao mentah itu, perjalanan saya dengan cokelat tidak jauh - jauh dari merek Silverqueen dan Toblerone. trus waktu abah saya pulang dari luar negeri, saya baru tau ada merek cokelat bernama Cadburry. sisanya, ya cokelat ayam murah yang lengket di lidah. lalu, suatu hari saya berkesempatan mengunjungi outlet cokelat ini di Kuala Lumpur. ini bukan sekedar outlet, dia punya costumer experience style yang memberikan transfer knowledge tentang proses bean to bar mulai dari biji kakao sampai ke bentuk akhir cokelat siap makan. mung...