Skip to main content

Hada Labo Gokujyun Ultimate : Akhir Penantian Panjang


sebelumnya, tahukah kamu kalau Hada Labo adalah produk Jepang alih - alih Korea ? kalau kamu tahu, selamat. setidaknya kamu lebih beruntung dari saya. selama ini saya amat sangat kecele dengan mengira Hada Labo asli Korea. fufufu. 😌😌😌

oke, persepsi kita sudah sama ya. kalau begitu, mari berbicara tentang petualangan saya mencari kitab suci toner. khususnya hydrating toner.

dalam kancah dunia perskin care an, saya ini termasuk telat. baru mengenal 10 step skin care sekitar setahun lalu. telat banget ya. sebelumnya skin care saya selalu diresepkan dokter selama bertahun - tahun sejak saya lulus SMA. ya gapapa lah ya telat urusan skin care. nggak dihakimi agama dan negara juga.

Perkenalan dan Perjalanan Menemukan Toner 


bagi saya dari sepuluh step skin care, toner adalah salah satu produk yang susah banget nemu yang cocok.

petualangan saya urusan toner ini dimulai dari saya yang nggak ngerti bedanya exfoliating toner dan hydrating toner. pernah saya pakai hanya exfoliating toner aja, pernah hydrating toner aja, pernah dua - dua nya, pernah pula essence saya masukkan ke slot hydrating toner (yang kemudian rekening saya menangys karena jajan gadget saya sedikit terganggu karena harga toner yang overbudget 😭😭😭)

pertama kali saya pakai toner itu adalah cuka apel. kebayang kan ceu bau - bau semriwing mirip sampah basi si cuka apel ditemplokin ke muka saya. trus lama - lama saya nggak tahan dong. mungkin bagi kamu yang kuat skin care dengan bahan super alami this is not a big problem ya. tapi saya yang lebih memilih mencium wangi aspal yang baru dihampar dibanding mencium wangi putih telur mentah, jelas nggak tahan sama si cuka apel ini.

merk toner pertama yang saya beli waktu itu Laneige, trus emosi sama botolnya yang menurut saya sangat fragile. kemudian saya pindah ke Some by Mi yang varian Tea Tree. 

makin saya pakai skin care, makin saya mementingkan aksesibilitas kemudahan untuk beli skin care ini. saya menyadari bahwa bersikap ekslusif dengan beli skin care merk rare apalagi yang nggak punya official store dan beli nya harus online beneran bikin hidup saya makin susah aja.

ngerti kan perasaan lagi ngawas proyek Jalan Nasional nun jauh di perbatasan sana, pas nyampe kost baru tau kalau paket skin care dibalikin ke alamat asal karena nggak ada penerima. atau nyampe kost patah hati serum shiseido dua juta setengah pecah karena kurirnya asal taro, mungkin beliau kesel kali ya. saya ditelpon nggak bisa, sementara mungkin paket yang harus diantar masih banyak 😭😭😭   

di titik itu saya paham bahwa saya lebih butuh hydrating toner dibandingkan exfoliating toner. pemakaian exfoliating toner saya hentikan karena saya merasa cukup dengan physical exfoliating scrub. pilihan untuk memakai exfoliating toner berlayer dengan hydrating toner juga tidak saya ambil karena otak insinyur ini mikir Exfoliating + Hydrating = Netral = Nggak Ngefek = Buang Duit. (tapi trus saya salah, ternyata fungsi mereka tidak tumpang tindih)

pilihan untuk pemakaian selang seling antara Exfoliating dan Hydrating Toner juga saya rasa kurang tepat untuk saya karena saya merasa kebutuhan hidrasi kulit saya tinggi sekali. akhirnya semenjak sadar akan hal tersebut saya pakai Hydrating Toner merk lokal N Pure seri Centella Asiatica. saya repurchase dan habis berbotol botol untuk produk ini. bukan karena saya cocok, tapi karena fungsinya tepat dan mudah didapatkan waktu saya masih di Samarinda.

kemudian saya pakai Secret Key varian Tea Tree. Brand ini setau saya Dupe nya SK II. tapi bukan itu saudara - saudara yang bikin saya beli sebotol toner seratus ribu ukuran 248 ml ini. alasan utamanya karena barang ini ada di Farmer's Market ! 

waktu saya beli ini, posisi saya sudah ditugaskan di Balikpapan. cukup mudah rasanya belanja produk ini di Farmer's Market Balikpapan, begitu pikir saya yang membeli produk ini di Farmer's Market Samarinda. turns out ternyata produk skin care di Farmer's Market Samarinda jauh lebih lengkap daripada di Balikpapan. well, dan toner ini nggak saya temukan di Farmer's Market Balikpapan. 

fyi, Farmer's Market di Samarinda dan Balikpapan masing - masing hanya ada satu gerai. beda kayak Surabaya yang ada di beberapa titik. sempat kecewa sih karena nggak bisa repurchase Toner ini. tapi nggak yang kecewa banget karena saya sadar saya butuh hydrating toner yang lebih menghidrasi lagi. 

tapi karena Toner ini tempat jajan skin care saya jadi pindah ke Farmer's Market. karena saya merasa lebih nyaman belanja di sini dibanding dua gerai skin care yang sudah sangat terkenal. simpelnya karena saya bisa menemukan produk yang sama di sini. overall dari jaman di Surabaya dulu saya memang sudah keep in believe sama semua produk Ranch Market / Farmer's Market. karena mereka ini kurasi barang - barangnya oke oke banget. 

please jadikan aku Duta Farmer's Market.

oke, oke balik ke urusan toner. 

saya suka banget belanja skin care di Farmer's Market karena lorong Skin Care nya sepi, lebar, dan lengang (nggak kayak toko sebelah yang biasanya kalau kita agak lama liat - liat langsung disamperin trus ditanya tanya atau ditawarin promo ini itu). 

saya  suka berlama - lama di rak skin care. memindai satu - satu product yang saya sudah tau, saya sudah lama tau tapi belum pernah liat, atau produk yang malah saya belum pernah liat sama sekali. baca - baca product knowledge di kemasan Skin Care, belajar ingredients penyusun sebuah produk, sambil menimbang - nimbang beli apa nggak, trus kalau misalnya agak - agak tertarik langsung seacrh review nya di Female Daily dan ketika banyak yang review bagus seringkali berakhir khilaf masukin ke keranjang apalagi liat tulisan diskon dan promo but 1 get 1 (kayak kejadian saya borong sabun muka merk Klinsen tepat ketika saya bosen sama Senka saya. si Klinsen ngasih bundling promo yang bikin otak matematika saya memvalidasi satu buah sabun muka mereka harganya nggak sampai dua puluh ribu).

tolonglah, saya ini kan manusia biasa. the perks of excitement is real. ku bahagya. 

Hada Labo Gokujyun Ultimate Moisturizer Light Lotion as My Hydrating Toner


sesuai judul blog ini Glance of Destiny. adaaa aja, harapan yang saya tulis di blog ini berbuah takdir di kemudian hari. seperti ketika menulis tulisan ini di bulan mei (masih di tahun ini, 2020). saya menulis  kalau saya lagi minat nyobain Hada Labo yang Gokujyun Premium Toner untuk mengisi slot Hydrating Toner. 

entah kenapa, hati saya pivot untuk memilih toner ini alih - alih mengambil Skinlife Acne Care Toner. padahal aslinya mau beli yang itu karena penasaran. posisi Skinlife tuh di rak sebelah atas, terang benderang dan display nya ciamik. ada diskon pula. si Hada Labo malah di bawah, gelap, udah sisa dikit, nggak ada diskon.

tapi yah, namanya juga takdirnya sama Hada Labo. mungkin di Arasy malaikat udah bikin DIPA Anggaran kali ya sejak saya nulis condong hati mau coba toner Hada Labo tujuh bulan lalu. jadinya saya langsung khilaf dong, beli dua botol sekaligus dengan risiko kalau nggak cocok rugi bandar luar biasa.
 
*silahkan googling sendiri apa itu DIPA Anggaran 😚😚😚😚


baik, mari kita lanjut bahas si Bintang Utama yang menjadi alasan saya nulis postingan ini namun sayangnya kemunculannya dihalangi terus oleh prolog yang kepanjangan.

disclaimer : tipe kulit saya normal to oily. tapi saya takut banget jerawatan. jadi seringkali saya mensugesti diri saya memiliki tipe kulit oily to acne prone. kesan atas sebuah produk yang saya buat bukanlah review pro tentang bagus tidaknya sebuah produk. ini adalah pandangan personal saya atas sebuah produk skin care. yang menurut saya cocok di saya dan saya suka.

kesan pertama kali pake : wow, lebih dingin dari air wudhu. muka saya yang terpapar debu debu proyek dan harapan harapan palsu dari tenaga ahli ini langsung berasa dikasih minum. 

segar.

untuk tugas hidrasi, toner ini melakukan tugasnya dengan sangat baik. sejauh ini, ini yang paling terasa ngasih "minum" kulit saya dengan proper. apalagi kalau habis itu pakai Mediheal Hydro Gel Aloe Vera 92% sambil nyalain AC, wah kepala saya langsung dingin. karena jujur aja, skin care an salah satu bentuk self reward sekaligus self therapy saya ke diri sendiri. biar muka dan kepala saya dingin, setelah dipakai kerja otak seharian.

tapi tolong turunkan ekspektasi, efek dingin yang saya maksud disini hanya sampai untuk bikin rileks. kalau untuk bikin ngantuk, sleeping mask Some By Mi Yuja Niacin masih belum ada lawan.

balik ke Toner ini ya, saya pikir yaudahlah ya dia beneran the best so far for my hydrating toner. sampai beberapa hari lalu, saya ngaca pas mau wudhu shalat dzuhur....... 

lho - lho, kok glowing ? 

whoaaa. ternyata selama ini saya hanya fokus ke tugas hidrasi nya aja. saya lupa kalau toner ini juga bikin glowing. sampai kaget sendiri.

aku kaget, tapi senang 😇😇😇


dari segi tekstur, dia nih "air banget" jadinya saya pakai ini menggunakan kapas premium (yang kalau di Farmer's Market harganya 16.500 isi 175 pcs). kapas ini beda sama kapas 6.500 an yang saya pakai double cleansing. ukurannya lebih tipis dan lebih lambat dalam menyerap skin care sehingga penggunaan skin care bisa lebih hemat. 

sebuah bentuk penghematan mbak - mbak proyek yang mau ke Toraja akhir tahun ini.

kemasannya kecil, bentuk tutupnya flip top (kek tutup botol minyak kayu putih). untuk urusan bentuk botol ini ngasih ketenangan di hati saya. untuk aroma, menurut saya nggak ada wanginya sama sekali. bagi saya ini memang Toner yang saya mau. bagi yang lain bisa jadi ini jadi bahan pertimbangan.

after all, saya cinta banget sama produk ini dan brand Hada Labo secara keseluruhan. saya baru tau kalau produk Hada Labo yang masuk slot Toner *kode* nya adalah Lotion, sementara produk Hada Labo yang masuk slot Moisturizer *kode* nya adalah Milk.

kedepan saya mau cobain facial wash seri Tamagohada dan Moisturizer Milk nya.

ada amin ?





Balikpapan, 8 Desember 2020




Riffat Akhsan -- yang baru sadar besok libur.

Comments

Popular posts from this blog

Hong Kong Day 3: Mengagumi Hong Kong Secara Pelan-Pelan

Halo, terima kasih untuk kamu yang kembali ke sini. kisah tentang Hong Kong sengaja saya ceritakan per hari, agar saya juga mengingat dengan syukur bahwa doa saya terkabul. bahwa mimpi saya terwujud. cuaca saat itu bagus (tidak terjadi thypoon). udara juga cocok untuk saya (pertengahan musim semi). dan semoga, kamu juga bisa meginjakkan kaki ke Hong Kong. Hari Ketiga di Hong Kong adalah harinya slow down. karena saya harus mengatur energi saya dengan baik. hari pertama dan kedua udah dar der dor banget. hari ketiga saya usahakan pace nya lebih lambat. di hari ketiga ini pula saya hanya jalan-jalan berdua dengan Fatimah. karena, Annisa ke Disneyland. KFC Wan Chai dan Jalan Masuk Menuju Wan Chai Market perjalanan kami mulai dari KFC Wan Chai sebagai tujuan sarapan. KFC ini adalah cabang KFC halal terdekat dari apartment, lokasinya persis di depan tram station. ternyata, menu yang ready saat itu baru menu - menu light meal ala KFC seperti sup krim dan omelette. sementara saya dan Fatimah ...

Rasanya Kuliah di Teknik Sipil Itu..

Rasanya Kuliah di Teknik Sipil itu.. FUN :) yah berkuliah di jurusan yang menangani realisasi dari perencanaan pembangunan. simple nya jurusan yang menghitung kemungkinan bisa tidaknya sebuah rencana bangunan dibangun, atau lebih gampangnya lagi adalah jurusan tukang. adalah jurusan yang 90% peminatnya adalah cowok. dan saya adalah bagian dari jurusan ini. kalian bisa bayangkan, kelas saya. kelas H teknik sipil berjumlah 45 mahasiswa dengan komposisi mahasiswa cowok 43 orang dan mahasiswa cewek 3 orang (termasuk saya). kalau kelas kita dicampur, maksimal cewek dalam satu kelas adalah 9 orang. itu sudah paling banyak. keadaan seperti itu, setiap hari senin-jum'at.  di awal awal masa perkuliahan membuat saya berpikir kayaknya-saya-salah-jurusan-deh. bagi seorang mahasiswa yang selama SMP dan SMA selalu berada di ruang kelas yang satu kelas cewek semua, hal ini sangat baru bagi saya. tapi ini harus saya jalani. dari segi materi, di teknik sipil kamu tidak akan pernah b...

Beryl’s Jalan Panggong Outlet - Kuala Lumpur

  "Riffat, ayo makan buah cokelat"  waktu itu dia petik buah kakao itu, dibukanya, dan disodorkan ke saya "buah cokelat" versi dia.  buah cokelat yang dalam kenyataannya adalah biji kakao. saya masih ingat, rasanya manis dan ada hint pahit. teksturnya seperti buah sirsak versi lebih padat.   rasanya itu adalah awal mula ketertarikan saya dengan cokelat. tetangga saya yang punya pohon kakao di rumahnya.  setelah pengalaman memakan biji kakao mentah itu, perjalanan saya dengan cokelat tidak jauh - jauh dari merek Silverqueen dan Toblerone. trus waktu abah saya pulang dari luar negeri, saya baru tau ada merek cokelat bernama Cadburry. sisanya, ya cokelat ayam murah yang lengket di lidah. lalu, suatu hari saya berkesempatan mengunjungi outlet cokelat ini di Kuala Lumpur. ini bukan sekedar outlet, dia punya costumer experience style yang memberikan transfer knowledge tentang proses bean to bar mulai dari biji kakao sampai ke bentuk akhir cokelat siap makan. mung...